Pelurusan, Sudetan & Tanggul Sungai, Efektifkah Melawan Banjir?

Pelurusan, Sudetan, dan Pembuatan Tanggul Sungai Justru Menyebabkan Banjir Besar

Mendesak sekali permasalahan banjir akhir-akhir ini untuk dikaji secara mendalam guna mencari solusi penanggulangannya. Banjir dengan diikuti tanah longsor yang belakangan ini menghantam di berbagai daerah di Indonesia seperti di Jakarta, Cilacap, Purwakarta, Semarang, Padang, Aceh, dan lain-lain; demikian juga banjir yang terjadi di belahan benua Eropa dan Amerika, seperti banjir di Belanda, di Jerman, di Perancis, di Kalifornia dan Florida beberapa tahun lalu telah menyentak pikiran para ahli sungai dan ahli hidrologi di seluruh dunia guna mencari sebab dan pemecahannya. Bahkan kenapa di Jerman, Perancis, Belanda, dan Amerika yang terkenal dengan kemajuan teknologi persungaiannya tahun­-tahun belakangan ini sering terancam banjir-banjir besar tahunan terus-menerus.

Sedikitnya ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap kejadian banjir; yakni faktor hujan, faktor perubahan tata guna lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS), dan Faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai. Faktor hujan (tingkat kederasan, sebaran serta waktu turunnya) merupakan faktor yang sifatnya makro dan external yang sulit untuk diadakan perubahan oleh rekayasa manusia. Faktor perubahan tata guna lahan di DAS hubungannya dengan banjir nampaknya sudah dipahami oleh banyak khalayak, di mana semakin rusak suatu DAS (karena penebangan hutan, pembangunan pusat olah raga, pembangunan pemukiman besar­-besaran, pembukaan areal untuk perkebunan, dan lain-lain) maka semakin meningkat intensitas banjir di DAS tersebut. Sedang kesalahan perencanaan alur sungai merupakan faktor yang sangat dominan yang saat ini di tingkat internasional sangat intensif didiskusikan. Faktor ini diduga kuat merupakan penyebab banjir-banjir tahunan di berbagai negara. Oleh karena itu uraian dalam artikel ini akan difokuskan mengenai pengaruh faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai terhadap banjir.

Sungai-sungai di Indonesia 30 tahun terakhir ini mengalami peningkatan pembangunan fisik yang relatif cepat. pembangunan fisik tersebut misalnya pembuatan sudetan-sudetan, pelurusan-pelurusan, pembuatan tanggul sisi, pembetonan/ pengerasan tebing baik pada sungai besar maupun kecil. Hal ini akan berakibat terjadinya percepatan aliran air menuju hilir. Sungai di bagian hilir akan menanggung volume aliran air yang lebih besar dalam waktu yang lebih singkat dibanding sebelumnya. Jika tampung sungai di hilir tidak mencukupi maka akan terjadi banjir. Pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul-tanggul pembatas dan pembetonan/perkerasan tebing sungai pada hakekatnya merupakan penghilangan retensi atau pengurangan kemampuan retensi sungai terhadap aliran airnya yang berarti juga merupakan penciptaan masalah banjir baru di bagian hilir. Mungkin di daerah hulu, di bagian yang di luruskan, masalah banjir dapat diatasi, namun di bagian hilirnya akan menerima beban banjir yang lebih besar. Jika aktivitas ini dilanjutkan terus maka dapat dipastikan pada tahun 2050 nanti sungai-sungai di Indonesia seperti Bengawan Solo, Brantas, Citarum, Cisadane, Musi, dan lain-lain akan selalu mendatangkan banjir bandang setiap tahun. Akibat berikutnya adalah erosi dasar sungai yang tidak bisa diprediksi lokasinya dan tanah longsor di pinggir kanan-kiri sungai akibat peningkatan kecepatan air dan peningkatan volume air di sungai tersebut. Dampak negatif lainnya adalah terjadinya kerusakan lingkungan akibat makin berkurangnya keragaman hayati di areal wilayah sungai. Kelangkaan ini disebabkan oleh aktivitas pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul, dan perkerasan sisi yang sekaligus berarti menghilangkan habitat flora-fauna dan ekosistem di sepanjang sungai.

Pola pembangunan persungaian dengan model pelurusan, sudetan, dan pembuatan tanggul ini sama persis seperti yang telah dilakukan oleh negara-negara Eropa dan Amerika awal tahun 1800-an sampai tahun 1980-an yang lalu. Karena memang model pembangunan wilayah sungai di Indonesia meniru model yang dilakukan di Eropa. Kasus yang sangat terkenal di dunia persungaian internasional adalah pembangunan dan restorasi Sungai Rhine di Jerman dan juga Sungai Kissitnmee di Florida Amerika Serikat. Sungai Rhine dan anak-anak sungainya mulai tahun 1800-an sampai tahun 1980-an telah diadakan pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul, serta penghilangan retensi aliran sepanjang sungai secara besar­besaran. Aktivitas ini dulu dilakukan salah satunya bertujuan untuk menanggulangi banjir-banjir kecil lokal di Sungai Rhine. Langkah ini terbukti sekarang justru sebaliknya mengakibatkan banjir-banjir besar yang hampir setiap tahunnya melanda kota-kota di sepanjang Sungai Rhine, seperti kota Bonn, Koln, Mainz, dan kota­-kota bagian hilir sungai lainnya. Juga di berbagai daerah di sepanjang Sungai Rhine terjadi erosi dasar sungai yang disebabkan oleh peningkatan kecepatan air akibat aktivitas tersebut.

rhine-valley

                                       Sungai Rhine Jerman

flood rhine (jerman)                        Banjir melanda kota disepanjang sungai rhine

Erosi dasar sungai ini mengancam keselamatan jembatan-­jembatan yang ada di sepanjang Sungai Rhine dan juga menyebabkan longsornya/ tergerusnya tebing-tebing sungai di berbagai tempat. Dari kacamata lingkungan hidup, dampak negatifnya adalah terjadinya penurunan yang sangat drastis pada jumlah serta keragaman flora dan fauna sepanjang Sungai Rhine. Dengan diketahuinya berbagai dampak negatif tersebut, maka di Jerman sekarang ini diadakan proyek besar-besaran dengan dana yang sangat besar untuk mengembalikan sungai-sungai yang telah diluruskan sejauh mungkin ke kondisi semula. Hal yang sama juga dilakukan oleh Amerika Serikat. Pemerintah negara bagian Florida terpaksa harus rela mengeluarkan dana tidak kurang dari US$ 2.000.000.000, untuk mengembalikan Sungai Kissimmee ke kondisi naturnya (alamiahnya).

Jika Indonesia masih saja menerapkan pola pembangunan sungai berupa pelurusan, sudetan, pembetonan sisi sungai, dan pembatasan limpasan aliran sungai dengan tanggul-tanggul seperti pola yang dilakukan Jerman dan Amerika dekade yang lain, maka dapat dipastikan akan mengalami akibat yang sama. Bahkan akibat buruknya dapat lebih dahsyat lagi karena karakteristik hujan dan sungai di Indone­sia jauh lebih ekstrim.

Contoh konkrit untuk kasus serupa di Indonesia adalah pembangunan Sungai Bengawan Solo. Di bagian hulu, dari Wonogiri sampai Karanganyar, telah diadakan pembangunan tanggul, pelurusan, sudetan, dan pembersihan retensi dengan penghilangan tumbuh-tumbuhan di pinggir kanan-kiri sungai maupun dengan perkerasan dinding sungai. Usaha ini dimaksudkan untuk menyelamatkan kota Solo (Surakarta) dari banjir dengan cara mengalirkan secepat-cepatnya air yang melewati kota tersebut. Namun air yang mengalir cepat ini, tidak disadari, akan menerjang daerah-daerah bagian hilir setelah kota Solo seperti daerah Bojonegoro dst. Daerah tersebut akan menerima beban aliran yang lebih besar daripada sebelumnya. Maka dapat dipastikan bahwa daerah tersebut nantinya akan mengalami banjir kiriman dari Solo. Guna menanggulangi banjir kiriman ini, selanjutnya daerah bagian hilir diprediksi akan juga berusaha membuat tanggul-tanggul, sudetan-­sudetan dan pelurusan-pelurusan serupa. Demikian seterusnya hingga tanggul, sudetan, pelurusan, dan perkerasan tebing sungai ini akan berjalan dari hulu sampai ke daerah paling hilir di Tuban. Akhirnya. jika tidak ada rekayasa baru yang merevisi cara pembangunan sungai ini, Sungai Bengawan Solo lima puluh tahun lalu (tahun 2050) dapat dipastikan menjadi sungai buatan yang kelihatannya rapi, lurus-lurus, bertanggul di sisi kanan-kirinya tapi amat sangat labil dan berbahaya.

Langkah penyelesaian dengan menghidupkan/ mengaktifkan kembali retensi di sepanjang alur aliran sungai, dengan meningkatkan kualitas ekosistem serta habi­tat flora dan fauna sepanjang sungai, tidak secara mudah membuat pelurusan pelurusan sungai, pembuatan tanggul-tanggul, dan sudetan-sudetan adalah langkah yang dirasa paling tepat. Langkah ini berarti meredam banjir di sepanjang sungai dengan menggunakan retensi sungainya sendiri. Tapi, sebagai konsekuensinya akan mungkin terjadi luapan/ banjir kecil-kecil di berbagai tempat di sepanjang alur sungai. Namun hal justru ini lebih baik, dibanding banjir sangat besar yang menerjang suatu daerah tertentu saja. Di samping itu perlu diketahui bahwa justru banjir-banjir kecil itu sangat diperlukan bagi perkembangan dan kelangsungan ekosistem, flora-fauna, dan habitatnya di sepanjang wilayah sungai. Dengan suburnya habitat ini maka semakin tinggi pula tingkat retensi/ daya redam sungai tersebut terhadap banjir. Banjir kecil-kecil ini juga berfungsi untuk menjaga stabilitas muka air tanah serta meningkatkan konservasi air permukaan.

sungai code yogya (ditanggul)                     Sungai code, Yogyakarta (diluruskan/ditanggul)

sungai code yogya                     Sungai code, Yogyakarta (alami)

Demikianlah faktor kesalahan pembangunan alur sungai, yang dapat menyebabkan terjadinya banjir selama ini, di samping faktor hujan dan perubahan tata guna lahan DAS yang telah disebutkan di atas. Agar kita dapat lebih waspada terhadap kemungkinan banjir di saat sekarang ini dan banjir yang akan terjadi puluhan tahun yang akan datang serta kerusakan lingkungan yang menyertainya, maka perlu perencanaan pembangunan alur sungai (beserta DAS-nya) secara inte­gral dengan mengambil pengalaman-pengalaman kesalahan perencanaan sungai di negeri-negeri maju, yang sekarang akibatnya telah dialami oleh mereka dan dapat dilihat dengan jelas. Jangan sampai pembangunan sungai yang sekarang ini justru memberikan pekerjaan yang lebih besar pada generasi yang akan datang untuk mengoreksinya.

Sumber data :

Kompas, 28 Januari 2001, oleh Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono
Pelurusan, Sudetan, dan Pembuatan Tanggul Sungai Justru Menyebabkan Banjir Besar
dalam buku :
EKO-HIDRAULIK
Pengelolaan Sungai Ramah Lingkungan
Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan Wilayah Sungai
Dr.-Ing.Ir.Agus Maryono

Share:

1 comment:

  1. Dengan berkembangnya IPTEK dibidang teknologi modifikasi cuaca aspek curah hujan saat ini bisa kita rekayasa dengan meredistribusi curah hujan agar hujan tidak semuanya jatuh di daerah rawan hujan namun di hujankan ke daerah yang masih mampu menampung curah hujan atau dijatuhkan ke laut. Rekayasa hujan juga bisa dilakukan dengan mengganggu pertumbuhan awan sehingga awan tidak berkembang menjadi awan-awan cumulonimbus yang intensitasnya tinggi. Dengan cara ini besarnya curah hujan yang akan jatuh di daerah rawan banjir akan berkurang.

    ReplyDelete

Merupakan sebuah kehormatan dan kebahagiaan bagi kami, jika anda berkenan untuk meluangkan waktu sejenak untuk memberikan kritik dan saran bagi blog kecil ini, melalui kotak komentar dibawah ini.

Cari Artikel

Follow by Email

Popular Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sobat Kampuz