Blog ini berisi materi materi yang ringan seputar lingkup teknik sipil, sedangkan yang bahasan dengan materi materi yang berat berat tidak ada disini, kalau disini sih yang ringan ringan saja, yang mudah dipahami, yang bisa dicerna dan bisa dimengerti.
Dalam mencapai sebuah "esensi", saya lebih senang mempelajari dari hal yang paling kecil dulu, yang masih "gabah", yang dalam mainstream modern dan "instanitas" dianggap oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang tidak penting dan membuang buang waktu.(Lutfi Andrian WS)

Saturday, June 12, 2010

Tabel Konversi Satuan Untuk Teknik Sipil

Satuan?…Pentingkah?

Penting!,

Gampangnya gini, …cobalah anda pergi ke toko sembako, kemudian bilang ke penjualnya

“Pak beli berasnya satu…..”

yakin dech pasti penjualnya pasti balik tanya karena bingung “satu apa mas?“ 

Nah penting kan satuan itu…, jadi perlu diperjelas, satunya satu apa?, satu biji apa satu kilo (kalau satu biji gak mungkin dech hehehe)

ini baru satu contoh brow….hehehe, contoh berikutnya seperti ini

kalau anda sedang merenovasi rumah, dan berniat untuk beli bahan bangunan, kemudian tanyalah ke penjualnya seperti ini :

  1. Pak, beli besinya sepuluh, harganya berapa?
  2. Bu, beli pasirnya dua, kerikilnya satu, berapa harganya?

kira-kira penjualnya bingung ndak?

Jadi perlu diperjelas, sepuluh itu sepuluh apa? lonjor apa kilo?, terus pasir dan kerikilnya nya dua gledek atau dua kolt atau apa….

Jadi inilah pentingnya dari satuan itu, karena menjadi identitas dari bilangan atau angka yang kita sebutkan 

Ok! sekarang kita masuk ke pembicaraan utama kita, yaitu konversi satuan.

Berbicara tentang konversi-mengkonversi, jujur saja dulu saya sempat bingung, semisal 1 Mpa itu berapa t/cm2 ? kg/cm2 ?, atau 1 N.mm itu berapa kg.cm? kg.fit? kg.in?…,nah kadang-kadang hal-hal seperti itu bikin kepala saya dikit puyeng lho (maklum soalnya saya ini orangnya agak lemot hehe)

Nah…untuk mengatasi kebingungan saya (biar kepala nggak puyeng hehe), maka saya buat tabel kecil konversi satuan, yang tentu saja saya ambil satuan-satuan yang penting saja khususnya untuk hitung menghitung di lingkup teknik sipil. tabelnya seperti dibawah ini :

tabel konversi panjang

tabel konversi area

tabel konversi berattabel konversi sudut  tabel konversi volume tabel konversi tekanantabel konversi momen

Baris yang saya blok pakai warna hijau tua adalah angka dan satuan yang akan dikonversi, sedangkan baris, kolom yang saya blok pakai warna hijau muda adalah hasil konversinya. Perhatikan angka dan satuan yang saya blok pakai warna hijau tua, untuk angkanya saya ambil mudahnya yaitu angka 1 (untuk selanjutnya ini disebut sebagai angka pengali), sedangkan untuk satuannya saya ambil yang familiar bagi kita yaitu kilogram (kg), meter (m), degree (deg) (satuan MKS ‘meter, kilogram, second).

Terus bagaimana cara penggunaanya ?

Tinggal dilakukan perbandingannya saja, dan saya rasa pasti rekan-rekan sudah tahu semuanya to hehehe….

Konsep konversi-mengkonversinya saya rumuskan sebagai berikut :

rumus konversi

Contoh 1

0.5 cm = …….fit

Jawab :

angka pengalinya = 0.5

satuan lama = cm

satuan baru yang diinginkan = fit

  1. Sesuaikan dengan tabel konversi diatas
  2. Ambil angka (nilai) yang ada di tabel untuk dijadikan perbandingan

contoh 1 

0.5 cm  =  (3.2808/100) x 0.5

0.5 cm  = 0.0164 fit

Contoh 2

30 kip = …….N

Jawab :

angka pengalinya = 30

satuan lama = kip

satuan baru yang diinginkan = N

  1. Sesuaikan dengan tabel konversi diatas
  2. Ambil angka (nilai) yang ada di tabel untuk dijadikan perbandingan

contoh 2

30 kip  =  (9.80665 / 2.20E-03) x 30

30 kip  = 133500 N

Contoh 3

25 Mpa = ……. kg/cm2

Jawab :

angka pengalinya = 25

satuan lama = Mpa

satuan baru yang diinginkan = kg/cm2

  1. Sesuaikan dengan tabel konversi diatas
  2. Ambil angka (nilai) yang ada di tabel untuk dijadikan perbandingan

contoh 3

25 Mpa  =  (1.00E-04 / 9.81E-06) x 25

25 Mpa  = 254.929 kg/cm2

Sampai disini, mudah kan…….

Oh iya, Jika rekan rekan ingin

  • download tabel diatas dalam format excel, klik aja disini
  • download tabel diatas dalam format PDF, klik aja disini

Semoga bermanfaat…….

Tuesday, June 1, 2010

Eko Hidraulik Vs Banjir !

 Eko-Hidraulik Ramah Lingkungan-Suatu Konsep Baru untuk Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan di Wilayah Keairan

 

Pada kesempatan Seminar Nasional Eko-Hidraulik tanggal 28-29 Maret 2001, Universitas Gadjah Mada kembali melahirkan sebuah asosiasi profesi yang sangat penting kaitannya dengan penanggulangan banjir dan kerusakan lingkungan di wilayah keairan. Asosiasi tersebut diberi nama Asosiasi Eko-Hidraulik Indonesia dan disingkat ASEHI. Tujuan asosiasi ini adalah untuk mengembangkan dan memasyarakatkan konsep baru Eko-Hidraulik ke seluruh lapisan masyarakat dalam rangka menyelamatkan keragaman hayati wilayah keairan (sungai, danau, rawa, dan pantai) serta menanggulangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh rekayasa hidraulik murni di wilayah keairan misalnya banjir dan erosi dasar/tebing sungai. Berdirinya ASEHI ini sekaligus sebagai tanda berbaliknya para ahli Teknik Sipil Hidro dari pemahaman parsial (hidraulik murni) dalam mengelola wilayah keairan ke pemahaman integral yang memasukkan pertimbangan ekologi daham penanganan masalah di wilayah keairan.

Pembangunan wilayah keairan di seluruh dunia dewasa ini sebagian besar masih menggunakan pola pendekatan rekayasa Teknik Sipil Hidro secara parsial. Sehingga hasil rekayasa tersebut sangat terkesan jelas lepas, bahkan bertentangan dengan kepentingan kelestarian ekologi atau lingkungan. Pola rekayasa hidraulik murni diartikan bahwa dalam penyelesaian masalah di wilayah keairan hanya didasarkan pada fungsi hidraulik wilayah keairan itu saja, tanpa mempertimbangkan dampak negatif dan keterkaitanya terhadap komponen ekologi yang ada. Sebagai misal fungsi suatu sungai, menurut konsep hidraulik murni, sungai hanya dipandang sebagai suatu saluran hidraulik pembuangan air kelebihan menuju ke laut. Jadi dengan konsep ini, semua sungai sebaiknya diluruskan atau ditalud sehingga air dapat secara cepat mengalir ke hilir. Dengan konsep ini komponen ekologi sungai otomatis akan hancur total. Gambar berikut ini menyajikan suatu ilustrasi rekayasa hidraulik murni terhadap suatu sungai.

tampang sungai                         sumber :http://bebasbanjir2025.wordpress.com

Gambar di sebelah atas adalah kondisi wilayah sungai yang masih alamiah. Pada gambar tersebut terlihat kesatuan antara faktor ekologi dan hidraulik. Pada sungai yang masih alami biasanya selalu memiliki tampang melintang yang heterogen/bervariasi dan ditumbuhi vegetasi yang cukup lebat. Kondisi habitat seperti ini menguntungkan berbagai jenis flora dan fauna sungai (reptil, mamalia sungai, amphibia sungai, ikan, zoobenthos, dan lain-lain). Di samping itu ternyata vegetasi ini mempunyai fungsi hidraulik yang sangat vital yaitu sebagai komponen resistensi banjir dan resiatensi erosi dasar dan tebing sungai. Di sini terlihat jelas bahwa antara faktor ekologi dan hidraulik sebenarnya saling mendukung. Pada saat banjir, vegetasi di sepanjang sungai akan berfungsi sebagai faktor retensi yang akan menghambat kecepatan aliran sungai ke daerah hilir. Karena kecepatan air diperlambat maka muka air akan naik dan menggenangi daerah bantaran sungai di mana vegetasi tumbuh. Penggenangan daerah bantaran secara dinamis dengan durasi alamiah ini justru sangat diperlukan oleh flora dan fauna sungai guna kelangsungan hidupnya.

Rekayasa hidraulik murni atau konvensional yang dilakukan akan merubah total kondisi alamiah sungai menjadi kondisi sungai buatan (saluran-selokan) seperti pada gambar diatas (bagian bawah). Ditinjau dari sisi ekologi maupun hidraulik, kondisi sungai yang telah tereksploitasi ini sangat tidak menguntungkan. Sungai dengan dinding pasangan batu, beton, atau urugan tanah semacam ini memiliki retensi banjir dan erosi yang sangat rendah dan juga memiliki keragaman hayati yang amat sangat rendah dibanding dengan sebelumnya.

Sebagai contoh konkrit kefatalan pendekatan hidraulik murni/ konvensional adalah kejadian di Sungai Kissimmee, Florida Amerika Serikat; kejadian di Sungai Rhine, Jerman, dan kejadian di Sungai Bengawan Solo, Indonesia.

pelurusan sungai 1

Pelurusan Sungai Kissimmee yang tadinya berbelok berliku secara alami, telah merusak ekosistem sungai dan danau di Florida Amerika Serikat. Semula Sungai Kissimmee yang mengalir berupa meander sepanjang 150 km, diluruskan menjadi 70 km, sehingga habitat bagi satwa yang tadinya seluas 16.000 ha rawa tinggal tersisa 400 ha, sebanyak 75% punah. Akibatnya elang dan rusa, buaya dan ikan menghilang, burung rawa terbunuh atau migrasi ke tempat lain. Sebelum Sungai Kissimmee diluruskan, Danau Okeechobee yang menampung/menerima air sungai itu, kaya akan berbagai jenis ikan dan sekelilingnya subur serta hijau. Sesudah pelurusan sungai, di danau tersebut sering dijumpai ikan yang mati dalam jumlah ratusan ton, tanaman di sekitar danau mengering. Air menjadi kotor, padahal danau tersebut merupakan sumber air minum untuk Kota Miami dan beberapa kota disekitarnya. Diketemukan oleh ahli biologi, ternyata ekosistem rawa berperan sebagai penyaring air agar menjadi jernih (Chiras, 1988; Tanjung & Maryono, 2001).

Pelurusan dan pembangunan bendung di Sungai Rhine di Eropa yang merubah Sungai Rhine yang tadinya berkelok-kelok menjadi lurus-lurus dan terpotong-­potong oleh bangunan bendung dari daerah hulu sampai dengan hilir, ternyata telah menyebabkan kepunahan ikan salmon dan berbagai jenis ikan lainnya. Hasil tangkapan ikan salmon yang pada tahun 1901 masih mencapai sebanyak lebih dari 300.000 ekor maka pada tahun 1970-an tidak ada hasil tangkapan sama sekali. Di samping hal tersebut, segala macam jenis flora dan fauna pinggir sungai berkurang sangat drastis dan bahkan sebagian besar punah. Di daerah Rhine bagian atas saja telah terjadi pelurusan sungai dart 350 km panjang sungai alamiah menjadi 270 km sungai buatan dan mematikan habitat ekologi daerah pinggir sungai seluas 870.000 ha (Maryono, 2001).

Di Indonesia, baru-baru ini dilaporkan bahwa pelurusan Sungai Bengawan Solo di daerah Sukoharjo, Surakarta, dan Karanganyar yang merubah alur sungai alamiah sepanjang 50 km menjadi kurang dari 35 km, telah mengakibatkan munculnya masalah-masalah baru, tidak hanya masalah ekologi namun juga masalah sosial dan higienis bahkan juga masalah peningkatan tendensi banjir di hilir. Akibat pelurusan tersebut adalah sepanjang 15 km habitat flora dan fauna pinggir sungai hancur, sungai-sungai yang terputus menjadi sungai mati dan merupakan sarang,,, nyamuk dan penyakit lainnya; dengan pelurusan ini tercipta daerah-daerah yang terisolir dan terputus hubungannya dengan dunia luar seluas 525,85 ha dan ancaman banjir kiriman di daerah hilir seperti daerah Ngawi, Bojonegoro dst (Sudarta, 2001).

Dengan laju perkembangan kesadaran lingkungan dan kesadaran berpikir holistik dunia internasional dewasa ini, serta ditemukannya berbagai dampak negatif yang sangat besar dari rekayasa hidraulik murni seperti disebutkan di atas, maka pola pikir rekayasa hidraulik secara parsial ini sejak tahun 80-an di dunia internasional mulai ditinggalkan. Kemudian dikembangkan pola rekayasa interdisipliner baru dengan memasukkan pertimbangan ekologi pada setiap penyelesaian masalah keairan.

Island with a palm treePendekatan interdisipliner Eko-Hidraulik ini dipandang sebagai suatu pola pendekatan baru yang bisa diterima baik dari orang-orang ekologi maupun Teknik Sipil Hidro serta memiliki keberlanjutan yang tinggi. Karena pendekatan yang digunakan sudah memasukkan pertimbangan faktor fisik (hidraulik) maupun non fisik (ekologi) yang masing-masing memegang peranan penting pada wilayah keairan.

Di berbagai negara maju seperti Jerman, Amerika, Kanada, dan sebagian besar negara Eropa sudah pada sekitar tahun 80 dimulai pengembangan dalam pengaplikasian konsep Eko-Hidraulik. Perubahan ke arah konsep Eko-Hidraulik tersebut ditandai dengan dikembalikannya sungai-sungai yang telah diluruskan menjadi berkelok-kelok lagi seperti sungai alamiah (contoh Sungai Kissimmee dan anak-anak Sungai Rhine). Juga dihidupkannya kembali daerah-daerah terisolir secara ekologi akibat pelurusan sungai, dihidupkannya kembali daerah rawa-rawa sebagai retensi, konservasi, dan komponen perbaikan kualitas air. Sementara di daerah pantai diadakan penghentian terhadap usaha pemusnahan tanaman-tanaman pinggir pantai misalnya mangrove dan lain-lain.

Natchan3i

Di Indonesia penyelesaian masalah keairan dengan pendekatan Eko-Hidraulik belum dimulai, kebanyakan masih menggunakan pola pendekatan lama yakni hidraulik murni. Bahkan masih banyak rencana-rencana pelurusan sungai di berbagai tempat misalnya di Bengawan Solo, Ciliwung, Mahakam, Kapuas, dan lain sebagainya. Pemasyarakatan konsep Eko-Hidraulik di Indonesia sudah sangat mendesak untuk dilakukan, mengingat semakin banyaknya kerusakan lingkungan di wilayah keairan dan banjir akibat rekayasa hidraulik murni beberapa dekade yang lalu.

 

Sumber data :

Kompas, 9 September 2001, oleh Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono
Eko-Hidraulik Ramah Lingkungan-Suatu Konsep Baru untuk Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan di Wilayah Keairan
dalam buku :
EKO-HIDRAULIK
Pengelolaan Sungai Ramah Lingkungan
Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan Wilayah Sungai
Dr.-Ing.Ir.Agus Maryono

Pelurusan, Sudetan & Tanggul Sungai, Efektifkah Melawan Banjir?

Pelurusan, Sudetan, dan Pembuatan Tanggul Sungai Justru Menyebabkan Banjir Besar

Mendesak sekali permasalahan banjir akhir-akhir ini untuk dikaji secara mendalam guna mencari solusi penanggulangannya. Banjir dengan diikuti tanah longsor yang belakangan ini menghantam di berbagai daerah di Indonesia seperti di Jakarta, Cilacap, Purwakarta, Semarang, Padang, Aceh, dan lain-lain; demikian juga banjir yang terjadi di belahan benua Eropa dan Amerika, seperti banjir di Belanda, di Jerman, di Perancis, di Kalifornia dan Florida beberapa tahun lalu telah menyentak pikiran para ahli sungai dan ahli hidrologi di seluruh dunia guna mencari sebab dan pemecahannya. Bahkan kenapa di Jerman, Perancis, Belanda, dan Amerika yang terkenal dengan kemajuan teknologi persungaiannya tahun­-tahun belakangan ini sering terancam banjir-banjir besar tahunan terus-menerus.

Sedikitnya ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap kejadian banjir; yakni faktor hujan, faktor perubahan tata guna lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS), dan Faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai. Faktor hujan (tingkat kederasan, sebaran serta waktu turunnya) merupakan faktor yang sifatnya makro dan external yang sulit untuk diadakan perubahan oleh rekayasa manusia. Faktor perubahan tata guna lahan di DAS hubungannya dengan banjir nampaknya sudah dipahami oleh banyak khalayak, di mana semakin rusak suatu DAS (karena penebangan hutan, pembangunan pusat olah raga, pembangunan pemukiman besar­-besaran, pembukaan areal untuk perkebunan, dan lain-lain) maka semakin meningkat intensitas banjir di DAS tersebut. Sedang kesalahan perencanaan alur sungai merupakan faktor yang sangat dominan yang saat ini di tingkat internasional sangat intensif didiskusikan. Faktor ini diduga kuat merupakan penyebab banjir-banjir tahunan di berbagai negara. Oleh karena itu uraian dalam artikel ini akan difokuskan mengenai pengaruh faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai terhadap banjir.

Sungai-sungai di Indonesia 30 tahun terakhir ini mengalami peningkatan pembangunan fisik yang relatif cepat. pembangunan fisik tersebut misalnya pembuatan sudetan-sudetan, pelurusan-pelurusan, pembuatan tanggul sisi, pembetonan/ pengerasan tebing baik pada sungai besar maupun kecil. Hal ini akan berakibat terjadinya percepatan aliran air menuju hilir. Sungai di bagian hilir akan menanggung volume aliran air yang lebih besar dalam waktu yang lebih singkat dibanding sebelumnya. Jika tampung sungai di hilir tidak mencukupi maka akan terjadi banjir. Pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul-tanggul pembatas dan pembetonan/perkerasan tebing sungai pada hakekatnya merupakan penghilangan retensi atau pengurangan kemampuan retensi sungai terhadap aliran airnya yang berarti juga merupakan penciptaan masalah banjir baru di bagian hilir. Mungkin di daerah hulu, di bagian yang di luruskan, masalah banjir dapat diatasi, namun di bagian hilirnya akan menerima beban banjir yang lebih besar. Jika aktivitas ini dilanjutkan terus maka dapat dipastikan pada tahun 2050 nanti sungai-sungai di Indonesia seperti Bengawan Solo, Brantas, Citarum, Cisadane, Musi, dan lain-lain akan selalu mendatangkan banjir bandang setiap tahun. Akibat berikutnya adalah erosi dasar sungai yang tidak bisa diprediksi lokasinya dan tanah longsor di pinggir kanan-kiri sungai akibat peningkatan kecepatan air dan peningkatan volume air di sungai tersebut. Dampak negatif lainnya adalah terjadinya kerusakan lingkungan akibat makin berkurangnya keragaman hayati di areal wilayah sungai. Kelangkaan ini disebabkan oleh aktivitas pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul, dan perkerasan sisi yang sekaligus berarti menghilangkan habitat flora-fauna dan ekosistem di sepanjang sungai.

Pola pembangunan persungaian dengan model pelurusan, sudetan, dan pembuatan tanggul ini sama persis seperti yang telah dilakukan oleh negara-negara Eropa dan Amerika awal tahun 1800-an sampai tahun 1980-an yang lalu. Karena memang model pembangunan wilayah sungai di Indonesia meniru model yang dilakukan di Eropa. Kasus yang sangat terkenal di dunia persungaian internasional adalah pembangunan dan restorasi Sungai Rhine di Jerman dan juga Sungai Kissitnmee di Florida Amerika Serikat. Sungai Rhine dan anak-anak sungainya mulai tahun 1800-an sampai tahun 1980-an telah diadakan pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul, serta penghilangan retensi aliran sepanjang sungai secara besar­besaran. Aktivitas ini dulu dilakukan salah satunya bertujuan untuk menanggulangi banjir-banjir kecil lokal di Sungai Rhine. Langkah ini terbukti sekarang justru sebaliknya mengakibatkan banjir-banjir besar yang hampir setiap tahunnya melanda kota-kota di sepanjang Sungai Rhine, seperti kota Bonn, Koln, Mainz, dan kota­-kota bagian hilir sungai lainnya. Juga di berbagai daerah di sepanjang Sungai Rhine terjadi erosi dasar sungai yang disebabkan oleh peningkatan kecepatan air akibat aktivitas tersebut.

rhine-valley

                                       Sungai Rhine Jerman

flood rhine (jerman)                        Banjir melanda kota disepanjang sungai rhine

Erosi dasar sungai ini mengancam keselamatan jembatan-­jembatan yang ada di sepanjang Sungai Rhine dan juga menyebabkan longsornya/ tergerusnya tebing-tebing sungai di berbagai tempat. Dari kacamata lingkungan hidup, dampak negatifnya adalah terjadinya penurunan yang sangat drastis pada jumlah serta keragaman flora dan fauna sepanjang Sungai Rhine. Dengan diketahuinya berbagai dampak negatif tersebut, maka di Jerman sekarang ini diadakan proyek besar-besaran dengan dana yang sangat besar untuk mengembalikan sungai-sungai yang telah diluruskan sejauh mungkin ke kondisi semula. Hal yang sama juga dilakukan oleh Amerika Serikat. Pemerintah negara bagian Florida terpaksa harus rela mengeluarkan dana tidak kurang dari US$ 2.000.000.000, untuk mengembalikan Sungai Kissimmee ke kondisi naturnya (alamiahnya).

Jika Indonesia masih saja menerapkan pola pembangunan sungai berupa pelurusan, sudetan, pembetonan sisi sungai, dan pembatasan limpasan aliran sungai dengan tanggul-tanggul seperti pola yang dilakukan Jerman dan Amerika dekade yang lain, maka dapat dipastikan akan mengalami akibat yang sama. Bahkan akibat buruknya dapat lebih dahsyat lagi karena karakteristik hujan dan sungai di Indone­sia jauh lebih ekstrim.

Contoh konkrit untuk kasus serupa di Indonesia adalah pembangunan Sungai Bengawan Solo. Di bagian hulu, dari Wonogiri sampai Karanganyar, telah diadakan pembangunan tanggul, pelurusan, sudetan, dan pembersihan retensi dengan penghilangan tumbuh-tumbuhan di pinggir kanan-kiri sungai maupun dengan perkerasan dinding sungai. Usaha ini dimaksudkan untuk menyelamatkan kota Solo (Surakarta) dari banjir dengan cara mengalirkan secepat-cepatnya air yang melewati kota tersebut. Namun air yang mengalir cepat ini, tidak disadari, akan menerjang daerah-daerah bagian hilir setelah kota Solo seperti daerah Bojonegoro dst. Daerah tersebut akan menerima beban aliran yang lebih besar daripada sebelumnya. Maka dapat dipastikan bahwa daerah tersebut nantinya akan mengalami banjir kiriman dari Solo. Guna menanggulangi banjir kiriman ini, selanjutnya daerah bagian hilir diprediksi akan juga berusaha membuat tanggul-tanggul, sudetan-­sudetan dan pelurusan-pelurusan serupa. Demikian seterusnya hingga tanggul, sudetan, pelurusan, dan perkerasan tebing sungai ini akan berjalan dari hulu sampai ke daerah paling hilir di Tuban. Akhirnya. jika tidak ada rekayasa baru yang merevisi cara pembangunan sungai ini, Sungai Bengawan Solo lima puluh tahun lalu (tahun 2050) dapat dipastikan menjadi sungai buatan yang kelihatannya rapi, lurus-lurus, bertanggul di sisi kanan-kirinya tapi amat sangat labil dan berbahaya.

Langkah penyelesaian dengan menghidupkan/ mengaktifkan kembali retensi di sepanjang alur aliran sungai, dengan meningkatkan kualitas ekosistem serta habi­tat flora dan fauna sepanjang sungai, tidak secara mudah membuat pelurusan pelurusan sungai, pembuatan tanggul-tanggul, dan sudetan-sudetan adalah langkah yang dirasa paling tepat. Langkah ini berarti meredam banjir di sepanjang sungai dengan menggunakan retensi sungainya sendiri. Tapi, sebagai konsekuensinya akan mungkin terjadi luapan/ banjir kecil-kecil di berbagai tempat di sepanjang alur sungai. Namun hal justru ini lebih baik, dibanding banjir sangat besar yang menerjang suatu daerah tertentu saja. Di samping itu perlu diketahui bahwa justru banjir-banjir kecil itu sangat diperlukan bagi perkembangan dan kelangsungan ekosistem, flora-fauna, dan habitatnya di sepanjang wilayah sungai. Dengan suburnya habitat ini maka semakin tinggi pula tingkat retensi/ daya redam sungai tersebut terhadap banjir. Banjir kecil-kecil ini juga berfungsi untuk menjaga stabilitas muka air tanah serta meningkatkan konservasi air permukaan.

sungai code yogya (ditanggul)                     Sungai code, Yogyakarta (diluruskan/ditanggul)

sungai code yogya                     Sungai code, Yogyakarta (alami)

Demikianlah faktor kesalahan pembangunan alur sungai, yang dapat menyebabkan terjadinya banjir selama ini, di samping faktor hujan dan perubahan tata guna lahan DAS yang telah disebutkan di atas. Agar kita dapat lebih waspada terhadap kemungkinan banjir di saat sekarang ini dan banjir yang akan terjadi puluhan tahun yang akan datang serta kerusakan lingkungan yang menyertainya, maka perlu perencanaan pembangunan alur sungai (beserta DAS-nya) secara inte­gral dengan mengambil pengalaman-pengalaman kesalahan perencanaan sungai di negeri-negeri maju, yang sekarang akibatnya telah dialami oleh mereka dan dapat dilihat dengan jelas. Jangan sampai pembangunan sungai yang sekarang ini justru memberikan pekerjaan yang lebih besar pada generasi yang akan datang untuk mengoreksinya.

Sumber data :

Kompas, 28 Januari 2001, oleh Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono
Pelurusan, Sudetan, dan Pembuatan Tanggul Sungai Justru Menyebabkan Banjir Besar
dalam buku :
EKO-HIDRAULIK
Pengelolaan Sungai Ramah Lingkungan
Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan Wilayah Sungai
Dr.-Ing.Ir.Agus Maryono

Saturday, May 29, 2010

Yuk…Kita kaji Sungai Dengan Konsep Eko-Hidraulik

sungai-ciujung Sungai merupakan refleksi dari daerah yang dilaluinya. Faktor-faktor seperti kualitas air (unsur kimia dan temperatur), habitat yang ada (flora dan fauna), kondisi hidraulik sungai (debit, muka air, frekuensi aliran, dan lain-lain), dan morfologi sungai dapat dipakai sebagai indikator untuk menganalisis kondisi daerah aliran sungai tersebut. Jika di daerah sekitar sungai banyak aktivitas industri dengan kualitas penjernihan air limbah yang tidak memadai, maka kualitas air sungai (terutama sungai kecil dan menengah) tersebut juga akan terlihat jelas menurun. Jika suatu daerah relatif tandus, maka kondisi tersebut akan direkam oleh sungai kecil yang direfleksikan ke dalam bentuk kurva hidrografnya dengan waktu mencapai puncak yang pendek dan debit puncak yang tinggi serta waktu kering yang lama.

Dalam proses morfologi pembentukan sungai, sungai terbentuk sesuai dengan kondisi geografi, ekologi, dan hidrologi daerah setempat, serta dalam perkembangannya akan mencapai kondisi keseimbangan dinamiknya (Kern, 1994). Kondisi geografi banyak menentukan letak dan bentuk alur sungai memanjang dan melintang. Ekologi menentukan tampang melintang dan keragaman hayati serta faktor resistensi sungai. Sedangkan hidrologi menentukan besar kecil dan frekuensi aliran air di sungai. Namun ketiga faktor tersebut saling terkait dan berpengaruh secara integral membentuk morfologi, ekologi, dan hidraulika sungai alamiah. Morfologi, ekologi dan hidraulika sungai kecil dalam suatu sistem menentukan morfologi, ekologi, hidraulika sungai orde berikutnya. Dengan demikian kondisi morfologi, ekologi, dan hidraulika suatu sungai besar pada umumnya memiliki korelasi dengan kondisi sungai kecil di atasnya (Leopold et.at., 1964).

Di samping itu, aktivitas manusia (anthropogenic activities) di sungai merupakan faktor yang sangat penting pada perubahan morfologi, ekologi, maupun hidraulik sungai yang bersangkutan. Bahkan perubahan morfologi sungai besar-besaran, misalnya pelurusan normalisasi sungai Bengawan Solo (dari Sukoharjo sampai Karanganyar) tahun 1994 di Indonesia dan Sungai Rhine di Jerman atau Kissimmee di Amerika Serikat yang terjadi sepanjang dua abad terakhir ini, merupakan aktivitas manusia dalam merubah morfologi, ekologi, dan hidraulik sungai secara ekstrim. Perubahan-perubahan ini akan menyebabkan gangguan keseimbangan sungai yang bersangkutan dan dapat mengarah kepada destabilisasi sungai yang bersifat unpredictable.

FUNGSI SUNGAI

  • Sungai Sebagai Saluran Eko-Drainase (Drainase Ramah Lingkungan)

Sungai dalam suatu sistem sungai (river basin) merupakan komponen eko-drainse utama pada basin yang bersangkutan. Bentuk dan ukuran alur sungai alamiah, dalam kaitannya dengan eko-drainase, merupakan bentuk yang sesuai dengan kondisi geologi, geografi, ekologi, dan hidrologi daerah tersebut. Konsep alamiah eko-drainase adalah bagaimana membuang air kelebihan selambat-lambatnya ke sungai. Sehingga sungai-sungai alamiah mempunyai bentuk yang tidak teratur, bermeander dengan berbagai terjunan alamiah, belokan, dan lain-lain. Bentuk-bentuk ini pada hakekatnya berfungsi untuk menahan air supaya tidak dengan cepat mengalir ke hilir serta menahan sedimen. Di samping itu juga dalam rangka memecah/menurunkan energi air tersebut.

Konsep drainase konvensional yang selama ini dianut yaitu drainase didefinisikan sebagai usaha untuk membuang/mengalirkan air kelebihan di suatu tempat secepat-cepatnya menuju sungai dan secepat-cepatnya dibuang ke laut, menurut tinjauan eko-hidraulik tidak bisa lagi dibenarkan. Dengan konsep pembuangan secepat-cepatnya ini, akan terjadi akumulasi debit di bagian hilir dan rendahnya konservasi air untuk ekologi di hulu. Sungai di hilir akan menerima beban debit yang lebih tinggi dan waktu debit puncak lebih cepat dari pada keadaan sebelumnya dan akan terjadi penurunan kualitas ekologi daerah hulu. Jika sungai kecil, menengah, dan besar dijadikan sarana drainase dengan konsep konvensional seperti di atas, maka akan didapat suatu rezim saluran drainase sebagai ganti rezim sungai.

pelurusan sungai

Seperti kita ketahui, bahwa pembangunan sungai sampai saat ini belum memperhatikan faktor-faktor lingkungan sebagai unsur penting yang diperlukan dalam rekayasa strukturnya. Rekayasa pembangunan persungaian dirancang hanya berdasarkan kajian-kajian fisik hidraulik tanpa memperhatikan aspek-aspek ekosistem yang berlaku pada sebuah sistem perairan sungai. Kondisi yang ada malah menunjukkan upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air sering memberikan dampak berubahnya kondisi fisik sungai dari kondisi alamiahnya. Sebagai suatu contoh, untuk tujuan pengendalian banjir, alur sungai mungkin harus dipindah/diluruskan/diubah slope dasarnya dan dibuaut dengan konstruksi beton/batu kali pada tebing/ dasar sungai.

Implikasi dari pengelolaan sumber daya air dengan cara tersebut diatas akan berakibat pada berubahnya kondisi ekosistem sungai sebagai habitat bagi perkembangbiakan ikan dan organisme aquatik lainnya. Kondisi ekosistem perairan dapat mengalami perubahan ke arah yang kurang menguntungkakn bagi ikan untuk tumbuh dan berkembang biak, yang selanjutnya akan menyebabkan hilangnya beberapa jenis ikan akibat terputusnya siklus kehidupannya.

Maryono (2001) mengusulkan Konsep Eko-Drainase, Eco-Drainage Concept, yaitu “Relase of excess water to the rivers at an optimal time which doesn’t cause hygienic and flood problems”; eko-drainase diartikan suatu usaha membuang/mengalirkan air kelebihan ke sungai dengan waktu seoptimal mungkin sehingga tidak menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan banjir di sungai yang terkait (akibat kenaikan debit puncak dan pemendekan waktu mencapai debit puncak).

Hubungannya dengan penggunaan sungai untuk drainase jaringan irigasi teknis (dalam hal ini, biasanya sungai kecil dan menengah), perlu diteliti lebih jauh kaitannya dengan masalah ekologi sungai. Air limbah pertanian biasanya mengandung pestisida atau pupuk yang kemungkinan besar dapat mengganggu flora, fauna, dan keragaman hayati sungai kecil yang bersangkutan.

  • Sungai Sebagai Saluran Irigasi

Dalam perencanaan bangunan irigasi teknis, sungai yang ada dapat dipakai sebagai saluran irigasi teknis, jika dari segi teknis memungkinan. Kehilangan air di saluran dengan menggunakan sungai kecil lebih kecil daripada menggunakan saluran tanah buatan, karena pada umumnya porositas sungai relatif rendah mengingat adanya kandungan lumpur dan sedimen gradasi kecil yang relatif tinggi.

sungai sebagai jaringan irigasi

Kaitannya dengan ekologi, perlu dipertimbangkan besarnya debit suplai air di sungai. Sejauh mungkin tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan flora dan fauna sungai yang bersangkutan. Jika pada pengambilan air dengan menggunakan bendung harus diperhitungkan jumlah debit air minimum yang harus tersedia di sungai bagian hilir bendung agar kehidupan ekologi sungai masih dapat berlangsung, demikian pula pada penggunaan sungai untuk saluran irigasi harus dipertimbangkan besarnya debit tambahan maksimum yang masih dapat ditolelir, baik bagi hidraulik maupun bagi ekologi sungai tersebut.

Penelitian tentang debit air minimum dan debit air maksimum di suatu sungai kaitannya dengan ekologi sungai dewasa ini sedang berjalan relatif intensif. Hasil-hasil penelitian ini belum banyak dilaporkan dalam temu ilmiah. Penelitian yang dilakukan oleh Schera (1999) mengenai “Minds Wassermenge” (“Debit Air Minimum”) dapat dijadikan sebagai langkah awal penelitian-penelitian selanjutnya.

  • Sungai Sebagai Area Ekologi

Sebagaimana telah disinggung di atas, sungai mempunyai fungsi vital kaitannya dengan ekologi. Sungai dan bantarannya biasanya merupakan habitat yang sangat kaya akan flora dan fauna sekaligus sebagai barometer kondisi ekologi daerah tersebut. Sungai yang masih alamiah dapat berfungsi sebagai aerasi alamiah yang akan meningkatkan atau menjaga kandungan oksigen air sungai.

Flowingstream Komponen ekologi sungai adalah vegetasi daerah badan, tebing dan bantaran sungai. Pada sungai sering juga ditemui sisa-sisa vegetasi misalnya kayu mati yang posisinya melintang atau miring di sungai. Kayu mati ini pada sungai kecil dan menengah menunjukkan fungsi hidraulik maupun ekologi yang berarti (Scherle, 1999, Kern, 1994). Fungsi hidrauliknya adalah bahwa kayu mati ini akan dapat menghambat aliran air ke hilir, aliran air terbendung sehingga air tertahan di daerah hulu. Keuntungan ekologi dengan kayu mati ini adalah dapat menciptakan keheterogenan kecepatan aliran air dan kedalaman muka air. Di samping itu juga terjadi terjunan-terjunan kecil yang dapat meningkatkan kandungan oksigen dalam air. Kondisi fisik yang demikian ini merupakan habitat yang cocok untuk flora dan fauna suatu sungai, sekaligus berfungsi sebagai retensi aliran air.

Secara umum ekosistem sungai juga mengikuti kaidah ekosistem lainnya. Komponen ekosistem sungai terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang saling berpengaruh menjadi satu kesatuan dan memiliki kemampuan untuk membuat sistem aturannya sendiri. Pengaruh komponen fisik misalnya kecepatan aliran sungai, substrat, kualitas air, iklim mikro, karakteristik penyinaran matahari, dan perubahan temperatur sangat menentukan jenis-jenis biotope (fauna) yang ada pada wilayah sungai tersebut. (Diester, 1996).

 struktur dinamika sungai

Menurut Diester (1996), faktor yang sangat menentukan dalam ekosistem sungai adalah struktur dinamik dari debit yang mengalir di suatu sungai. Perkembangan faktor biotik dan abiotik lainnya diatur oleh besar kecilnya debit atau pergantian dari musim kering (debit rendah) dan musim basah (debit tinggi) di mana daerah bantaran/pinggir sungai secara periodik terkena banjir (genangan). Sistem kait-menkait komplek antara faktor biotik dan abiotik dalam suatu ekosistem sungai oleh Diester (1996).

Jenis flora dan fauna pada wilayah sungai tergantung pada berbagai macam faktor abiotik (fisik). Faktor abiotik dominan adalah iklim dan formasi geologi permukaan. Kedua faktor ini memberikan kerangka geografis untuk kelangsungan hidup jenis-jenis flora dan fauna sungai. Kondisi tampang memanjang sungai dengan berbagai macam karakteristik substrat, kecepatan air, komposisi unsur kimia yang ada, penyinaran, temperatur, dan jenis kandungan sedimen merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi variditas serta jumlah flora dan fauna sungai.

Sumber data :

EKO-HIDRAULIK
Pengelolaan Sungai Ramah Lingkungan
Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan Wilayah Sungai
Dr.-Ing.Ir.Agus Maryono

Friday, May 28, 2010

Yuk….Belajar STAAD Pro

Kenapa harus STAAD ?

STAAD adalah salah satu program analisa program analisa struktur yang pada saat ini telah banyak dipakai diseluruh dunia. STAAD menggunakan teknologi yang paling modern dalam rekayasa elemen hingga, dengan metode input data berbasis object oriented. Program ini dikembangkan oleh tim dengan pengalaman lebih dari 20 tahun riset yang diadakan di USA, Kanada, dan eropa dalam merumuskan metode ini. Dengan ketepatan numerik dan efisiensi perhitungan, metode ini memberikan hasil yang lebih baik daripada metode lain yang diketahui pada semua aplikasi rekayasa strukutur.

Kelebihan yang sangat dominan yang dimilki oleh STAAD adalah adalah kemudahan dalam penggunaannya. GUI (Graphical User Interface) dirancang sedemikian rupa agar user/pengguna lebih mudah menggunakan aplikasi dari program ini. Untuk lebih jelasnya, bila anda membuka program STAAD maka anda akan mendapat tampilan GUI seperti dibawah ini.

GUI STAAD INTERFACE

gambar diatas adalah GUI (elemen interface) dari program STAAD, dimana fungsi dari elemen-elemen tersebut adalah sebagai berikut :

1. Menu Pulldown

GUI STAAD5 

Bisa juga disebut sebagai menu bar, letaknya disebelah pojok kiri atas layar, tepatnya diatas menu toolbar, fungsi dari menu ini adalah untuk memberikan akses ke semua fasilitas dari STAAD

2. Menu Toolbar

GUI STAAD2

Terletak tepat dibawah menu pulldown. Menu ini berguna untuk mengakses perintah yang sering anda gunakan, jadi anda tidak perlu repot-repot lagi untuk mengakses perintah dari menu pulldown. Keberadaan dari menu toolbar akan sangat membantu sekali ketika anda bekerja dengan banyak pengeditan atau modifikasi rancang bangun struktur, sehingga pekerjaan anda akan semakin efektif dan tidak membuang-buang waktu karena harus mondar-mandir di menu pulldown. Selain itu anda juga bisa membuat customized toolbar sendiri.

3. Menu Halaman

GUI STAAD3

Terletak disamping kiri layar. Menu halaman adalah sekumpulan tab yang mana setiap tab dari kumpulan tab tersebut memiliki page control didalamnya, dimana didalam page control tersebut terdapat tool-tool yang berguna untuk memberikan perintah spesifik yang akan memudahkan dalam pemodelan dan verifikasi hasil analisa. Organisasi dari tab-tab tersebut menggambarkan operasi yang berurutan dari atas ke bawah, sehingga betul-betul akan mengarahkan anda pada pemodelan yang sistematis (berurutan mulai dari pemodelan – analisa – hingga verivikasi ), sehingga akan memudahkan pekerjaan anda. Tidak hanya itu saja, setiap tab dirancang dengan nama yang spesifik dan icon tool tersendiri, sehingga betul-betul memanjakan dan memudahkan anda ketika bekerja pada program ini.

4. Menu Data Area

GUI STAAD4

Terletak disamping kanan layar. Menu ini adalah menu tampilan dari operasi yang anda lakukan pada menu halaman. Jika anda menjalankan program STAAD dan anda mengoperasikan fungsi menu halaman, maka penjelasan dan menu apa saja yang terkandung didalamnya akan ditampilkan pada menu data area. Sebagai contoh, jika anda memilih general > support page pada menu halaman, maka pada menu data area akan menampilkan informasi support-node dan description-support (jenis perletakan/restraint) yang akan digunakan, seperti jepit, sendi, roll, atau anda bisa mendefinisikannya sendiri.

 

5. Menu Window

GUI STAAD1

menu window adalah layar tempat anda bekerja, dimana pemodelan yang anda lakukan dan hasil analisa dari pemodelan yang anda lakukan tersebut ditampilkan.

Tips :

Light bulb

kemudahan yang diberikan program STAAD pro, akan sangat anda rasakan tidak hanya dalam segi inputing data saja, tetapi terutama dalam menampilkan hasil desain struktur, seperti :

  1. Hasil penulangan lentur bisa langsung didapat hanya dengan memasukan data kuat lentur dan diameter tulangan
  2. Gambar tulangan memanjang balok beserta sengkangnya bisa ditampilkan
  3. Gambar detail tulangan baik balok/kolom bisa juga ditampilkan
  4. Khusus pengguna STAAD Pro 2007, untuk perhitungan struktur baja, detail sambungan lengkap beserta jaraknya bisa ditampilkan, bahkan secara 3D (tiga dimensi) lho…  

Bagaimana Ya…..Cara Menggunakan STAAD?

Peace SignMudah kok….!, karena prosedur (urutan tahap pengerjaannya) sudah disesuaikan dengan urutan input data berdasarkan format dari menu halaman yang sudah diuraikan diatas.

Sebelum kita akan membahas cara mengoperasikan STAAD lebih lanjut, maka ada baiknya kita perlu tahu dulu 7 (tujuh) tahapan dalam rancang bangun pemodelan  struktur pada STAAD.

1. Menentukan geometri model struktur

2. mendefinisikan data2

   - Jenis & kekuatan bahan

   - Menentukan dimensi penampang elemen struktur

   - Macam beban (load) yang bekerja

   - Kombinasi pembebanan (load combination)

3. Menempatkan (Assign) data yang sudah didefinisikan ke model struktur yang direncanakan, ini meliputi :

   - Data beban

   - Data penampang

4. Cek input data (memeriksa kembali input data)

   - Apakah jenis materialnya sudah didefinisikan dan sudah ditempatkan (assign) dengan benar ?

   - Apakah dimensinya elemen penampang yang di input sudah sesuai dengan yang direncanakan?, apakah sudah di tempatkan (assign) dengan benar?

   - Apakah beban-beban sudah ditempatkan dengan benar ?

   - Apakah kombinasi pembebanan sudah didefinisikan dengan benar ?

5. Analisa Struktur ( Mekanika Teknik)

6. Desain model struktur (baja, beton atau jenis bahan yang lain) dengan aturan-aturan ada (yang berlaku di negara kita seperti SKSNI, PBI)

7. Modifikasi struktur / re-design

 

Open-mouthedCatatan : khusus untuk yang nomor 6, STAAD tidak menyediakan menu/tool untuk mengedit reduksi kekuatan bahan (untuk menyesuaikan dengan peraturan beton yang berlaku SKSNI/PBI ‘91) seperti yang kita dapat kalau kita memodel struktur dengan menggunakan SAP ( yah…ini adalah salah satu kelemahan STAAD), tapi jangan khawatir, kelemahan ini bisa disiasati kok yaitu dengan memanipulasi faktor kombinasi beban

Perlu diketahui, khusus untuk desain struktur beton bertulang, dalam menetapkan kombinasi pembebanan sebaiknya berhati hati dan tidak hanya melihat dari segi faktor pembebanan saja, sebab untuk metode tertentu semisal SKSNI ‘91 tidak dikenal dalam STAAD, sehingga jika hanya melihat dari faktor pembebanan sesungguhnya yang sesuai dengan SKSNI ‘91 hanya beban rencananya, sedang desain strukturnya tidak sesuai dengan SKSNI ‘91.

Sebagai contoh pada SKSNI ‘91 ingin dilakukan kombinasi sebagai berikut :

U = 1.2 DL + 1.6 LL ……………….(1)

U = 1.05 (DL + LLr  ± E )………….(2)

U = 0.9 DL ± E……………………..(3)

Nah…jika kita ingin mendesain beton bertulang dengan menggunakan program STAAD, maka mau ndak mau kita harus menggunakan metode (code) ACI, BS8007, BS8110, Canadian, Chinese, EC2, French, Jerman, Indian, atau Japanese, yang mana sudah kita ketahui bahwa metode (code)2 tersebut memiliki parameter yang berbeda denagn SKSNI ‘91 terutama faktor reduksinya.

Untuk menyiasatinya supaya desain beton sesuai dengan parameter yang ada pada SKSNI, maka dapat dilakukan dengan memanipulasi faktor kombinasi beban. Sebagai contoh jika analisa strukturnya menggunakan metode ACI, maka perbedaan faktor reduksinya dengan SKSNI ‘91 adalah sebagai berikut

- Lentur balok

  ACI = 0.9   sedangkan    SKSNI = 0.8

- Aksial kolom

  ACI = 0.7   sedangkan    SKSNI = 0.65

- Geser balok & kolom

  ACI = 0.8   sedangkan    SKSNI = 0.6

contoh :

Jika faktor reduksi yang dipakai sebagai dasar perhitungan konversi dari ACI ke SKSNI ‘91 adalah faktor reduksi lentur balok, maka faktor konversi dari ACI ke SKSNI ‘91 = (0.9/0.8) = 1.125. Nah..faktor konversi ini kita masukan ke faktor kombinasi pembebanan sehingga:

- U = 1.2 (1.125) DL + 1.6 (1.125) LL

- U = 1.05 (1.125) (DL + LLr  ± E)

- U = 0.9 (1.125) DL ± E

….sehinga kesemua faktor pembebanannya menjadi

- U = 1.35 DL + 1.8 LL

- U = 1.81 (DL + LLr ± E)

- U = 1.01 DL ± E

Sebagai tambahan, contoh diatas hanyalah salah satu penyesuaian dari satu parameter yaitu parameter faktor reduksi lentur balok. Sedangkan parameter lain belum dipertimbangkan dalam konversi ini.

Smile

Baik sekarang kita akan lanjutkan ke contoh memodel dan medesain struktur dengan program STAAD ini, dan tentu saja di posting saya berikutnya

semoga bermanfaat …….

 

 

 

Wednesday, May 12, 2010

Sudah Idealkah Tangga Anda?

t9Sebagai jalur vertikal penghubung antar lantai, tangga menyimpan potensi bahaya bagi pemakainya, karena itu salah dalam membuatnya bisa mengakibatkan pengguna/pemakainya meresa lelah saat menapakainya, bahkan bisa saja terpeleset dan jatuh akibat salah menginjak anak tangga. Mungkin juga pengguna terjatuh akibat permukaan anak tangga licin, atau tangga tidak memiliki pagar pengaman.

Untuk meminimalkan potensi bahaya tersebut, maka sebelum merancang dan membuat tangga, sebaiknya perlu diketahui dulu aspek-aspek dalam perencanaan tangga, untuk itulah kita perlu mengetahui dulu data mengenai, siapa saja pengguna tangga itu?, apa saja yang dibawa saat menaiki tangga?, seberapa sering tangga itu digunakan?

adanya data tersebut akan mempengaruhi secara keseluruhan dari desain tangga tersebut, semisal,

  • Jika penggunaan tangga tersebut untuk anak2 atau manula, maka otomatis desain pada tinggi pijakan harus dibuat senyaman mungkin, kemudian tangga harus diberi pengaman khusus, railing tangga harus kokoh dan rapat.
  • Jika penggunaan tangga tersebut, untuk lalu lintas para pengunjung yang membawa barang bawaan berat semisal di mall-mall yang notabene intensitas penggunanya sangat padat sekali, maka otomatis struktur tangga harus didesain dengan kuat dan kokoh, dan jika tangga tersebut nantinya dibuat dengan material beton, maka pembesian tangga tersebut harus diperhatikan secara benar, faktor beban keamanan harus mengikuti standard aturan yang berlaku (PMI ‘83), tinggi dari pijakan harus didesain sedemikian rupa sehingga para pengguna merasa nyaman dan tidak khawatir terpeleset pada saat menapakinya.

t16

Setidaknya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan sebuah tangga yang ideal, dan enam pendukung sistem struktur tangga yang ideal

  • Tiga aspek dalam perencanaan tangga yang harus diperhatikan : 

1. Aspek Keamanan.

Tangga yang ideal harus mempunyai syarat keamanan, memenuhi syarat keamanan berarti tangga memiliki konstruksi yang kokoh untuk menahan atau menampung beban-beban dari konstruksi itu sendiri dan menampung beban manusia yang menggunakannya.

2. Aspek Kenyamanan

Tangga yang ideal harus mempunyai syarat kenyamanan, memenuhi syarat kenyamanan berarti pemakai/pengguna tidak merasa sulit dan lelah saat menapakinya.

Untuk memberikan rasa nyaman ketika menaiki tangga, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan saat perencanaannya, seperti :

· Tinggi dan ukuran anak (pijakan) tangga

· Kemiringan (kecuraman)

· Penggunaan pagar tangga (railing & bluster)

· Penggunaan borders

· Material anti slip, dan

· Pencahayaan pada ruang tangga

3. Aspek Estetika

Pilihan model dan desain tangga rumah anda, harus sesuai dengan arsitektural rumah anda secara keseluruhan. Sehingga tangga rumah anda tidak hanya berfungsi sebagai sarana penghubung lantai bawah dan atas saja, tapi juga bisa memberikan nilai tambah bagi keindahan rumah anda.

  • Enam Pendukung Sistem Struktur tangga yang harus diperhatikan : 

t2

     
    1. Pondasi
    Dibuat agar tangga tidak mengalami penurunan atau pergeseran. Pondasi dapat berupa pemasangan batu kali, beton bertulang atau kombinasi keduanya.
    2. Ibu Tangga
    Merupakan konstruksi pokok yang mendukung anak tangga, dapat merupakan konstruksi yang menjadi satu dengan rangka bangunan atau terpisah.
    3. Anak Tangga
    Sebagai tempat bertumpunya telapak kaki, syaratnya harus dipasang dengan teratur (agar enak dan nyaman saat dilalui), bentuk dan ukurannya harus ideal untuk memberikan rasa aman dan nyaman.
    4. Pagar Tangga
    Pelindung disamping sisi tangga agar orang tidak terperosok. Terdiri dari berbagai motif. Pembuatannya harus mempertimbangkan unsuk keamanan, kenyamanan dan keindahan.
     
    5. Pegangan Tangga
    Tempat berpegang bagi orang yang akan naik turun tangga agar aman, bentuknya bisa bulat atau persegi (tergantung selera), dibuat agar terasa enak dan pas oleh genggaman telapak tangan. Membutuhkan tumpuan berupa pagar tangga yang ditanam pada anak tangga dan ibu tangga 
    6. Bordes
    Adalah pelat datar diantara anak-anak tangga untuk tempat beristirahat. Lebar bordes ideal untuk bangunan rumah antara 80-100 cm, dan bangunan umum antara 120-200 cm

t5t3

N a h !  S u d a h    i d e a l k a h   t a n g g a   a n d a ?……

Referensi :

-majalah serial rumah (tangga)

-catatan kuliah struktur tangga

Saturday, May 8, 2010

Rumus Praktis Menghitung Panjang Jurai Untuk Menghitung Luasan Atap

Posting kali ini adalah sambungan dari posting saya sebelumnya yang membahas mengenai “Cara Menghitung Kebutuhan Atap Rumah”.

Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya bahwasanya sebelum menghitung kebutuhan atap, maka harus dihitung dahulu luasan atapnya (dalam hal ini adalah : luasan bidang tembereng). Luasan tembereng bisa dihitung jika panjang jurai atapnya sudah diketahui.

ATAPGABLE

Untuk menghitung panjang jurai bisa digunakan rumus berikut :

rumus menghitung panjang jurai

Mungkin teman2 pasti bertanya-tanya, darimanakah asal dari rumus tersebut?

Jawabannya :

sederhana kok, hanya kolerasi hitungan matematika saja, yaitu penggabungan antara konsep phytagoras dan rumus sudut

Perhatikan gambar dibawah ini :

Atap

(Gb.1)

Garis yang berwarna merah = Jurai Atap, Garis yang berwarna kuning = garis bantu horizontal, Garis yang berwarna hijau = garis bantu vertikal, Garis yang berwarna biru = tinggi kuda2 (tinggi dari alas ke nok)

 rumus atap 2

(Gb.2)

Konsepnya :

Jika panjang dari garis biru di kuadratkan, panjang dari garis hijau di kuadratkan, dan panjang dari garis kuning di kuadratkan, kemudian hasilnya dijumlahkan, dan setelah itu hasil dari penjumlahan tersebut diakarkan, maka akan didapat panjang dari garis merah

- Atau secara redaksionalnya adalah :

Akar dari jumlah garis biru kudarat ditambah garis hijau kuadrat, ditambah garis kuning kuadrat itu sama dengan panjang dari garis merah (garis jurai)

- Jadi kalau konsep diatas dijadikan sebuah perumusan maka bisa ditulis :

Panjang dari jurai (garis warna merah) :……….(rumus.1)

rumus panjang jurai

Nb : Ndak percaya?!…Silahkan anda buktikan sendiri!

Baik!, sekarang kita kembali ke perumusan diatas, lihat Gb.2

Nah…katakanlah atapnya memiliki lebar sepanjang L (lihat gbr diatas), maka akan didapat panjang dari garis hijau dan kuning sebagai berikut :

  1. garis hijau     = L/2
  2. garis kuning  = L/2

Trus, bagaimana untuk panjang dari garis biru ?

Untuk menghitung garis biru, bisa dijabarkan sebagai berikut (lihat yang saya lingkari pakai warna merah)

ataphifroofsection12

Panjang dari garis tersebut adalah :

tan α = ( panjang dari garis tersebut / setengah panjang L )

panjang dari garis tersebut = tan α x setengah panjang L

                                    = tan α  x  (0.5 x L)

Jadi panjang garis biru    = tan α  x 0.5 L

Nah…jika nilai2 tersebut yaitu :

  1. Panjang garis hijau     = L/2
  2. Panjang garis kuning  = L/2
  3. Panjang garis biru  = tan α  x 0.5 L

disubstitusi pada  rumus.1  diatas, maka akan didapatkan harga/rumus sbb :

rumus menghitung panjang jurai

Cukup mudah kan…..Baik sekarang kita menginjak ke contoh kasus

Contoh diambil pada posting sebelumnya

Sebuah rumah dengan model atap Hip Roof (atap perisai) dengan ukuran atap sedemikian rupa, dan rencananya akan memakai penutup atap genteng beton dengan ukuran panjang 40 cm  (dimana tiap 1m2 = 11 buah genteng beton). Sudut kemiringan atap sebesar 35o

PLANATAP5

ATAPGABLE9 

Hitunglah luas atap dan jumlah kebutuhan atap genteng betonnya ?

1. Kita hitung dulu panjang jurai atap (warna merah), dengan rumus diatas 

New Picture (37)

rumus menghitung panjang jurai

Panjang jurai atap = √  ( ( 0.5 L tan α)2 + 0.5 (L2)  )

                           = √  ( ( 0.5 x 6 x tan 35o )2 +  0.5 (62)  )

                           = 4.733 m

2. Menghitung Panjang sisi miring kuda2

ataphifroof85

panjang sisi miring =   √ 2.1012  +   (1/2 L)2

                            =   √ 2.1012  +  (1/2 x 6)2

                            =     3.662 m

(Catatan : angka 2.101 didapat dari 0.5 x L x tan α)

3. Menghitung Luas Atap

atapgenteng3 

dari gambar denah atap diatas, kita bagi menjadi enam segmen luasan atap ( A, B, C, D, E, F, dan G )

biar lebih mudah, hasil perhitungan diatas kita plotkan ke gambar seperti dibawah ini.

SECTIONROOFF9

  • Luas segmen A

Luas segmen A = ( jumlah sisi sejajar x tinggi) / 2

                        = ( ( 9 + 15 ) x 3.662 ) / 2

                        = 43.944 m2

  • Luas segmen B

Luas segmen B =  panjang tembereng  x  alas

                        =  4.733  x  9

                        =  42.597 m2

  • Luas segmen C

Luas segmen C = (alas x tinggi) / 2 = (6 x 3.662) / 2 = 10.986 m2

  • Luas segmen D

Luas segmen D = ( jumlah sisi sejajar x tinggi) / 2

                        = ( ( 4 + 10 ) x 3.662 ) / 2

                        = 25.634 m2

  • Luas segmen E

Luas segmen E =  panjang tembereng  x  alas

                        =  4.733  x  4

                        =  18.932 m2

  • Luas segmen F

Luas segmen F = (alas x tinggi) / 2 = (6 x 3.662) / 2 = 10.986 m2

  • Total Seluruh Luasan

Luas segmen  =  A + B + C + D + E + F

                     =  43.944 + 42.597 + 10.986 + 25.634 + 18.932 + 10.986

                     =  153.079 m2

  • Jumlah Atap Genteng Yang dibutuhkan

- Genteng Beton ( 1m2 = 11 buah )

- Luas Atap = 153.079 m2

- Jumlah atap genteng yang dibutuhkan = 153.079 m2  x  11 buah/m2

                                                          = 1683.689 buah

- dibulatkan menjadi = 1684 buah

 

Gampang kan…. Sekian dulu ulasan saya ya

semoga bermanfaat…..

Sebagai perbandingan anda bisa lihat posting saya sebelumnya mengenai : “Cara Menghitung Kebutuhan Atap Rumah”,

di posting tersebut saya ulaskan juga mengenai cara menghitung kebutuhan atap rumah, materinya sama cuman cara penyelesaiannya aja yang berbeda

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes