Blog ini berisi materi materi yang ringan seputar lingkup teknik sipil, sedangkan yang bahasan dengan materi materi yang berat berat tidak ada disini, kalau disini sih yang ringan ringan saja, yang mudah dipahami, yang bisa dicerna dan bisa dimengerti.
Dalam mencapai sebuah "esensi", saya lebih senang mempelajari dari hal yang paling kecil dulu, yang masih "gabah", yang dalam mainstream modern dan "instanitas" dianggap oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang tidak penting dan membuang buang waktu.(Lutfi Andrian WS)
Showing posts with label Tutorial STAAD Pro. Show all posts
Showing posts with label Tutorial STAAD Pro. Show all posts

Saturday, April 30, 2011

Create User Table – Fasilitas Untuk Membuat Profil Penampang Sendiri Pada STAAD Pro

STAAD menyediakan fasilitas Create User Table yang berguna untuk membuat bentuk profil penampang sesuai dengan keinginan kita, selain yang sudah ada pada library databasenya.

 

Katakanlah saya mempunyai bentuk pemodelan struktur (portal rangka baja) sebagai berikut

 

a1'

  • Kolom direncanakan memakai WF 350.175.7.11
  • Rangka batang (cremona) direncanakan menggunakan profil UNP 125.65.6.8

Nah… sekarang apakah bisa kita mendefinisikan sendiri profil penampang WF dan UNP tersebut ke dalam program STAAD tanpa menggunakan profil-profil penampang yang sudah ada pada database STAAD ?

Jawabannya adalah BISA!

yaitu dengan menggunakan fasilitas Create User Table

Bagaimanakah caranya ?

Berikut adalah cara penggunaan dari fasilitas Create User Table :

 

1. Kita rubah dahulu unit satuan, terutama satuan panjangnya ke satuan milimeter

 

a5

 

 

 

 

 

 

 

Catatan :

Merubah satuan itu sifatnya kondisional, artinya tergantung kondisi (tergantung anda). Tujuan dari mengganti satuan adalah untuk memudahkan inputing data saja

2. Pada menu pulldown, Klik menu Tools > Create User table, maka akan keluar kotak dialog Create User Provided Table. Klik New Table

 

a2

clip_image002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Maka akan keluar kotak Select Section Type. Kita akan mendefinisikan profil WF 350.175.7.11 terlebih dahulu. Untuk itu pada combo box Select Section Type, pilih WIDE FLANGE kemudian klik OK.

 

a3

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Pada kotak Select Existing Table telah muncul angka 1, yang berarti telah terbentuk tabel baru dari property penampang yang akan kita buat nantinya. Klik Add New Property.

 

a4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5. Akan keluar kotak dialog Wide Flange.

Isikan sebagai berikut :

Section Name           =  WF350.175

D    (Tinggi profil)     =  350 mm

TF  (Tebal sayap)     =  11 mm

WF (Lebar profil)      =  175 mm

TW (Tebal badan)    =  7 mm

Jika sudah lanjutkan dengan menekan tombol Calculate maka data property penampang akan terisi secara otomatis. Lanjutkan dengan meng klik OK.

 

a6

a7

 

Catatan :

anda bisa memasukan sendiri data Ax, Iz, Iy, Ix, Ay dan Az sesuai perhitungan atau tabel yang anda miliki. Dan untuk sementara ini kita ikuti saja perhitungan dari STAAD.

 

6. Sekarang pada Table Data pada kotak dialog Create User Provided Table telah terisi profil penampang baru yaitu UPT WF350.175. Klik Close untuk menutup kotak dialog.

 

a8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7. Langkah berikutnya adalah membuat tabel baru untuk properti profil UNP 125.65.6.8. Sekarang ubah dulu unit satuan panjang ke Centimeter (cm).

8. Jika sudah, klik kembali pada menu pulldown, yaitu menu Tools > Create User Tables, maka akan keluar kotak dialog Create User Provided Table. Klik New Table, kemudian pada combo box Select Section Type, pilih CHANNEL. Klik OK

 

a10

a9

 

 

9. Sekarang klik Add New Property. maka akan keluar kotak dialog CHANNEL. Isikan data sebagai berikut :

Section Name           =  UNP 125.65

D    (Tinggi profil)     =  125 mm = 12,5 cm

TF  (Tebal sayap)     =  8 mm  = 0,8 cm

WF (Lebar profil)      =  65 mm  = 6,5 cm

TW (Tebal badan)    =  6 mm = 0,6 cm

Klik Calculate.

 

a11

a12

Perhatikan hasil hitungan Ax, Iz, Iy, Ix, CG, Ay dan Az yang dilakukan oleh STAAD. dari sini anda bisa mengganti nilai Ax, Iz, Iy, Ix, CG, Ay dan Az yang dihitung oleh STAAD dengan perhitungan atau tabel yang anda miliki. (biasanya perbedaanya sangat tipis)

Okey Sobat,… sekarang katakanlah saya mempunyai tabel sendiri, dan nilainya akan saya ganti sesuai dengan tabel yang saya miliki.

Tabel saya berikut ini adalah tabel baja UNP dari PT Gunung Garuda

 

a14

Sekarang kita masukan Ax, Iz, Iy dan Center of Gravity (C.G) dari tabel diatas ke program (lihat gambar dibawah). Lanjutkan dengan meng klik OK

 

a15

Sekarang pada Table Data pada kotak dialog Create User Provided Table telah terisi profil penampang baru yaitu UPT UNP125.65. Klik Close untuk menutup kotak dialog.

 

a16

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Okey Sobat. Profil penampang sudah kita buat. Sekarang kita akan mendefinisikan ke struktur. Sudah tahu apa belum caranya ?… ^_^

Caranya seperti ini :

8. Masuk ke Menu Pages. Klik tab General kemudian pada kotak dialog Properties-Whole Structure klik User Table.

 

a18

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9. Maka akan keluar kotak dialog User Property Table. Pilih existing tabel no. 1, kemudian sorot UPT WF350.175, klik Add. Sekarang lanjutkan dengan memilih existing tabel no. 2, kemudian sorot UPT UNP125.65. klik Add, lalu klik Close untuk menutup kotak dialog.

 

a19

a20

10. Jika sudah maka pada kotak dialog Properties Whole-Structure telah terisi profil penampang yang sudah kita Add sebelumnya.

 

a21

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11. Sekarang pada kotak dialog Properties Whole-Structure. sorot WF350.175. kemudian seleksi semua kolom sehingga terblok dengan warna merah. lanjutkan dengan mengklik Assign.

 

a22

a23

 

12. Lakukan langkah diatas untuk profil UNP125.65.6.8, sehingga secara keseluruhan geometri strukturnya telah terdefinisi seperti gambar dibawah ini.

 

a24

a25

Nah… sobat sekian dulu ya pembahasan kita…

Semoga bermanfaat… ^_^

Sampai berjumpa di posting yang selanjutnya.

Assalamualaikum Warromatullohi Wabarokattu…

Sunday, October 24, 2010

View Management Tool, Untuk Efektifitas Kerja Yang lebih Baik Pada STAAD

Kalau berbicara tentang desain mendesain struktur, penyajian hasil analisa, desain penulangan, GUI (Graphical User Interface) yang user friendly maka jelas tak diragukan lagi STAAD lah jagonya. Namun dari sekian banyak kelebihan yang dimiliki oleh STAAD ternyata ada satu kelemahan yang dimiliki oleh STAAD, yaitu modus tampilan yang cuma satu layar (alias hanya satu tampilan saja). Coba saja kalau dibandingkan sama software saingannya, semisal SAP yang mampu menampilkan modus tampilan hingga “empat layar tampilan“, yang masih ditambah lagi dengan “tool move up/down in list” nya yang berguna untuk menampilkan bidang frame (portal) per “as sumbu” baik arah  X, Y dan Z.

1 (modus view SAP)2 (modus view STAAD)

Thinkingwah gimana nich STAAD?  bisa berabe kehilangan banyak fans setia tuch…..

eitz…tenang aja… kata siapa STAAD tidak punya modus tampilan seperti punyanya SAP… ya punya lah…lha wong STAAD gitu lho…Big Grinhihihihihi…

mungkin sekarang ada sobat kampuz yang bertanya : halah…cuman masalah view gitu doank aja kok dipermasalahkan..gak penting banget sih?

Happylho...lho…lho kata siapa…! ya penting banget to…ya memang sih kalau gambarnya tidak seberapa kompleks mungkin tidak ada pengaruhnya, lha kalau gambar pemodelan strukturnya kompleks seperti gambar diatas, gimana hayo? jelas kita akan butuh view per portal baik dalam arah memanjang ataupun melintang untuk memudahkan kita dalam memasukan dimensi penampang strukturnya, beban-beban struktur dan lain sebagainya selama proses perencanaan struktur tersebut.

Nah… tata cara pengerjaan perencanaan struktur yang melibatkan penggunaan tampilan (view) portal per portal inilah yang saya maksud dengan “view management”, seperti yang saya sebutkan dijudul posting ini.

Gunanya apa sih? gunanya adalah biar proses perencanaan struktur yang anda lakukan dari mulai penggambaran geometri struktur sampai desain struktur menjadi lebih mudah.

ConfusedTerus gimana cara penggunaannya ?

Begini caranya…Perhatikan baik-baik ..karena saya sendiri juga belum terlalu “ahli” maka secara otomatis pembahasannya pun dalam bahasa yang bukan ahlinya juga…jadi harap sobat kampuz memaklumi adanya ya…hehehe….

1. Sekarang perhatikan gambar struktur gedung 7 (tujuh) lantai dibawah ini.

4

Data Gedung :

  • 1. Jumlah lantai = 7
  • 2. Tinggi tiap lantai = 4 m
  • 3. Tinggi total gedung = 28 m
  • 4. Panjang gedung = 25 m
  • 5. Lebar gedung = 25 m

Rencananya kolom lantai 1 s/d 5 menggunakan dimensi 60/60, kemudian lantai 6 & 7 menggunakan dimensi 40/40. Dimensi balok 30/50.

Nah…sebagai catatan, saya tidak akan membahas bagaimana cara mendefinisikan dimensi penampang, beban, support dan lain sebagainya, tapi disini yang saya tekankan adalah bagaimana cara yang termudah mengatur modus tampilan (view) agar kita bisa dengan lebih mudah untuk mendefinisikan profil penampang terdefinisi ke geometri struktur, dan melihat hasil desain pembesian per portalnya.

2. Klik tool view from + Y (yang saya lingkari pakai warna merah)

5

3. Maka akan ditampilkan tampak atas gedung tersebut. Sekarang jaring As – A sehingga terblok dengan warna merah seperti gambar disamping ini.

6

4. Lanjutkan dengan klik kanan, Kemudian pilih “New View”

7 

5. Akan muncul kotak dialog New View, Pilih Create a new window for the view. Kemudian klik OK sehingga akan muncul window (tampilan) baru dengan nama <Untitled 1>.

8

9

6. Sekarang klik tombol isometric view, sehingga tampilan portalnya berada dalam modus isometrik (3D)

10

11

7. Sekarang kita akan save portal ini dengan nama Portal As-A. Untuk itu pada menu puldown klik View > View Management > Save View. Maka akan keluar kotak dialog Save View As. Isi dengan nama As-A kemudian klik OK, maka otomatis portal kita akan disave oleh STAAD dengan nama As-A.

 12

13

14

8. Sekarang coba anda cek di menu pulldown Window, apakah window (tampilan) As-A sudah masuk apa belum. nah…ternyata sudah masuk.

15

9. Nah…dari sini kita bisa meneruskan dengan me save portal as yang lain sehingga dengan begini apabila kita ingin mendefinisikan penampang profil tertentu kita tidak akan kesusahan karena setiap portalnya sudah kita definisikan, sehingga disaat kapan kita ingin menampilkan portal tertentu maka dengan mudah kita bisa melakukannya.

10. Untuk mengakses semua view yang sudah kita save, bisa diakses ke menu pulldown View > Open View. Kemudian tinggal klik pada portal as mana yang ingin ditampilkan.

16

Sekian…semoga bermanfaat !

Sunday, August 22, 2010

Perencanaan Ruko Dua Lantai Dengan Program Bantu STAAD Pro 2004 (Part 4)-End

Assalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatu…..

Wuih…setelah hampir satu bulan nggak bikin postingan karena sibuk mengurusi tugas kantor yang numpuk dan draft-draft gambar yang terbengkalai, alhamdullillah sekarang saya bisa kembali lagi untuk menyapa rekan-rekan semuanya dan tentu saja untuk menyelesaikan hutang saya yang sempat tertunda yaitu pembahasan tahap ke empat atau akhir dari pembahasan  “Perencanaan Ruko Dua Lantai Dengan Program Bantu STAAD Pro 2004” ini

Baik! langsung kita mulai saja ya….

Mendefinisikan Beban Kombinasi

Setelah kita selesai menempatkan semua beban-beban ke struktur yaitu beban pelat lantai, beban pelat atap, beban dinding & beban hidup, maka langkah selanjutnya adalah mendefinisikan beban kombinasi yang merupakan kolaborasi dari beban-beban tersebut diatas. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

1. Dari menu page, klik tab General kemudian klik tab Load. Jika nanti keluar kotak dialog Set Active Primary Load Case, klik cancel. Setelah itu pergilah kekotak dialog Loads-Whole Structure yang ada disamping kiri layar tampilan anda, kemudian klik New Load.

1

2

2. Setelah itu akan keluar kotak dialog Create New Load. Anda klik radio button New Load Combination (Manual), kemudian isi pada kotak text box ‘Title’ dengan nama BEBAN KOMBINASI, jika sudah lanjutkan dengan mengklik OK!.

3

3. Akan keluar kotak dialog Define Combination. Isi factor beban dengan nilai 1.2, kemudian lanjutkan dengan menyeleksi beban berat sendiri, beban mati pelat & beban dinding dengan cara mengklik satu persatu beban tersebut sambil menahan tombol Ctrl di keyboard anda. Lanjutkan dengan menekan tombol > , agar beban yang terseleksi berpindah ke frame Load Combination

4

 5

4. Jika sudah, maka dengan cara yang sama lakukan juga untuk beban hidup pelat, tapi dengan catatan ubah dulu nilai factor beban dengan 1.6. Sehingga secara keseluruhan menjadi seperti dibawah ini. Lanjutkan dengan mengklik OK!

6

Ok!. sekarang semua beban berikut dengan kombinasinya telah kita definisikan semuanya. Langkah berikutnya adalah menyiapkan parameter desain sebelum melakukan analisa struktur.

Menyiapkan Parameter Desain 

1. Dari menu page, klik tab Analysis/Print, maka otomatis akan keluar kotak dialog Analysis/Print Commands. Pastikan pilihan No Print pada frame Print Option. Tekan Add kemudian lanjutkan dengan meng klik Close.

1.1

1.2

2. Kembali lagi ke menu page. Sekarang klik tab Design kemudian klik tab Concrete. Maka di menu pages disebelah kanan layar tampilan anda akan keluar kotak dialog Concrete Design-Whole Structure. Pada kotak scrool box Current Code, pilih code desain ACI (catatan : kita pilih ACI karena code desain ini sudah sangat mirip dengan SKSNI). Jika sudah, maka lanjutkan dengan meng klik Select Parameter.

1.3

1.4

3. Akan keluar kotak dialog Parameter Selection. Pindahkan semua parameter desain ke Available Parameter yang ada di lajur sebelah kiri  dengan cara meng klik tombol <<

1.51.6

4. Sekarang kita akan seleksi beberapa parameter desain yang kita perlukan saja. Caranya klik Clb, Cls & Clt, kemudian pindahkan ke kanan (Selected Parameters) dengan meng klik tombol >

1.7

1.8 

5. Ulangi untuk Fc, Fymain, Fysec, Maxmain, Minmain, Minsec, Reinf dan Track. Hasil akhirnya seperti gambar dibawah. Klik OK untuk menutup kotak dialog

1.9

Adapun penjelasan dari parameter yang kita pilih adalah sebagai berikut :

- Clb, Cls, Clt  = Jarak decking (selimut beton) pada bagian samping, atas dan bawah ( diambil = 4 cm).

- Fcmain = Kuat tekan beton ( direncanakan K-250 = 250 Mpa = 254,929 Kg/cm2).

- Fymain = Kuat tarik baja untuk tulangan utama ( direncanakan menggunakan mutu baja U-39 = 3900 kg/cm2).

- Fysec = Kuat tarik baja untuk tulangan sengkang ( menggunakan mutu baja U-24 = 2400 kg/cm2).

- Maxmain = ukuran maksimum besi tulangan utama yg digunakan (batasan dimensi tulangan utama maksimum yang didesain oleh STAAD). – untuk perencanaan ini kita gunakan besi tulangan maksimum yang diperbolehkan adalah D16

- Minmain = ukuran minimum besi tulangan utama yg digunakan (batasan dimensi tulangan utama minimum yang didesain oleh STAAD). untuk perencanaan ini kita gunakan besi tulangan minimum yang diperbolehkan adalah D12

Nb : sebenarnya saya inginya pakai besi D13, tapi karena di STAAD hanya menyediakan besi tulangan dengan ukuran 6, 8, 10, 12, 16, 20, 25, 32, 40, 50, & 60, maka saya ambil saja yang mendekati yaitu ukuran 12. Nanti akan ada verivikasi lagi.

- Minsec = ukuran minimum besi tulangan sengkang yg digunakan (batasan dimensi tulangan minimum sengkang yang didesain oleh STAAD). - untuk perencanaan ini kita gunakan besi tulangan minimum sengkang yang diperbolehkan adalah Ø8

- Reinf = Paramer tulangan spiral atau sengkang untuk kolom

- Track = Mode Output

Mendefinisikan Parameter Desain 

1. Sekarang klik Define Parameters.

2.0

2. Kita ubah dulu satuan input yang digunakan ke Kg.cm (caranya seperti yang sudah kita bahas di posting sebelumnya)

3.1

2. Definisikan semua parameter dengan nilai-nilai yang sudah kita tentukan seperti diatas. Caranya klik tab Clb. Isi nilai Clb  yaitu 4 cm. Klik Add untuk melanjutkan.

3.2

3. Ulangi langkah ke 2 diatas untuk Cls & Clt (jangan lupa setelah anda menginputkan nilai, klik Add lho ya….hehehe).

4.  Selanjutnya secara berurutan masukan nilai Fc, Fymain, Fysec, Maxmain, Minmain, Minsec sebagai berikut

3.3    3.4  3.5 3.6 3.7 3.8

5. Selanjutnya klik tab reinf. lalu klik 0 (Tied Column), lalu klik Add

3.9

6. Terakhir klik tab Track, lalu klik 1, lanjutkan dengan dengan menekan Add kemudian klik Close

4.0

7. Nah sekarang apabila anda melihat pada kotak dialog Concrete Design-Whole Structure, akan tampak list parameter yang telah ditentukan dengan diawali tanda tanya yang berarti parameter tersebut belum didefinisikan ke batang.

4.1

8. Definisikan parameter concrete ke batang. Caranya dari kotak dialog Concrete Design (lihat gambar diatas). Klik radio button Assign To View pada frame Assignment Method kemudian parameter CLB 4. Klik Assign

4.2

9. Lakukan hal yang sama untuk parameter lainnya kecuali parameter Reinf.

10 Untuk parameter REINF, Pilih semua kolom. Caranya bebas…anda boleh menyeleksinya secara satu persatu atau bisa juga melalui fasilitas Select By Group Name. Jika anda melalui fasilitas ini, maka caranya adalah sebagai berikut.

- Dari menu pulldown, klik Select > By Group Name. Maka di kotak dialog Select Group akan keluar group-group batang yang sudah kita definisikan sebelumnya (kalau tidak salah ada di postingan Part-2…silahkan dilihat lagi).

4.3

- Klik G5: KOLOM, jika sudah maka secara otomatis elemen kolom akan terseleksi semua (lihat gambar dibawah). Jangan di close dulu kotak dialog Select Groups nya. Kemudian beralih dulu kekotak dialog Concrete Design. Klik Assign to Selected Beams > klik REINF 0 > Klik Assign. Maka akan keluar kotak dialog informasi yang menanyakan apakah perintah akan diproses lebih lanjut. Klik Yes.

4.44.6

11. Jika sudah, close kotak dialog Select Groups

12. Sampai saat ini anda telah mempunyai parameter desain untuk semua elemen dengan material beton. selanjutnya berikan perintah desain struktur dengan cara klik design Commands.

13 Akan keluar kotak dialog desain Commands. Klik tab Design Beams kemudian  klik Add

4.7

14. Lakukan hal yang sama untuk tab Design Column dan tab Take Off. Klik Close untuk menutup dialog 

15. Maka pada kotak dialog Concrete Design perintah desain akan ditampilkan dengan diawali simbol tanda tanya, yang artinya perintah tersebut belum didefinisikan ke batang.

16. Beri perintah desain batang dengan cara

Pilih semua beam. Caranya bebas…anda boleh menyeleksinya secara satu persatu atau bisa juga melalui fasilitas Select By Group Name. Jika anda melalui fasilitas ini, maka caranya adalah sebagai berikut.

- Dari menu pulldown, klik Select > By Group Name. Maka di kotak dialog Select Group akan keluar group-group batang yang sudah kita definisikan sebelumnya. Pilih semua elemen batang kecuali G5: KOLOM. Maka otomatis semua elemen batang akan terseleksi kecuali elemen kolom

A1 a2

17. Klik Assign to Selected Beams > klik DESIGN BEAM > Klik Assign. Maka akan keluar kotak dialog informasi yang menanyakan apakah perintah akan diproses lebih lanjut. Klik Yes.

A3

18. Sekarang kita akan melakukan juga langkah diatas untuk yang bagian kolomnya. Pilih G5: KOLOM pada kotak dialog Select Groups. sehingga semua kolom teseleksi semua

A4

4.4

19. Klik Assign to Selected Beams > klik DESIGN COLUMN > Klik Assign. Maka akan keluar kotak dialog informasi yang menanyakan apakah perintah akan diproses lebih lanjut. Klik Yes.

A5

20. OK! Semua parameter sudah kita definisikan semua. sekarang kita tinggal melakukan analisa strukturnya….(untuk itu mari kita berdoa dulu agar pada waktu proses analisa struktur tidak ada yang error atau input kita tidak ada yang salah nantinya hehehe….) 

21. Bismillahirrohmanirrohim!

22. Sekarang pada menu pulldown klik Analyze. atau boleh juga dengan menekan Ctrl + F5. Jika sudah maka akan keluar kotak dialog Select Analyze Engine. Anda klik STAAD Analyze kemudian klik Run

A7

Alhamdullillah, ternyata doa kita terkabul. semua input tidak ada yang error, sehingga runningnya berjalan sukses.Klik done untuk menutup kotak dialog

Pengkajian Hasil Analisa (Modeling)

Untuk melihat Diagram Momen Lentur, Gaya Lintang (Shear Force) & Gaya Axial, bisa anda akses pada menu toolbar Result

A10

Dari kiri kekanan adalah :

  • Fx = Axial Force.
  • Fy = Shear Y Force.
  • Fz = Shear Z Force.
  • Mx = Torsion (Momen torsi).
  • My = Bending Y Moment.
  • Mz = Bending Z Moment.
  • Plate Stress, ( iconnya mati karena kita tidak mendefinisikan pelat pada geometri struktur kita).
  • Solid Stress, ( iconnya mati karena kita tidak mendefinisikan solid pada geometri struktur kita).
  • Deflection (Menampilkan defleksi struktur).
  • Mode Shape.
  • Animate (Untuk menampilkan struktur dalam modus animasi)
  • Result setup (Untuk mensetting dan menampilkan hasil analisa hitungan dari pembebanan tertentu).

1. Menampilkan Diagram Moment (Mz)

a11

2. Menampilkan Diagram Lintang (Shear Y Force)

a12

3. Menampilkan Diagram Axial (Shear Y Force)

- Klik kanan pada area kosong di layar utama anda. Pilih Labels. Kemudian klik tab Scales. Atur skala diagram gaya axial dengan nilai 1000 kg per cm (intinya adalah biar digram grafiknya tidak terlalu besar). Hilangkan centang pada kotak Apply Immediately. Klik OK.

a13

- Jika sudah, klik tool Fx (Axial Force), maka hasilnya sebagai berikut :

a14

4. Menampilkan Desain Tulangan

Untuk menampilkan desain tulangan, cukup dengan mengklik ganda salah satu elemen/batang yang ingin ditampilkan hasil tulangannya.

Misalkan saja saya ingin menampikan hasil tulangan dari balok dan kolom seperti gambar dibawah ini.

a15

4.1. Hasil tulangan dari balok yang kita klik diatas ( disini akan tampak bahwa balok di desain untuk tumpuan kiri (atas/bawah) 2D16, Lapangan 2D16 dan tumpuan kanan (atas/bawah) 2D16. Sedangkan sengkangnya 8 buah besi Ø8 dengan jarak 226 mm

a17Verivikasi : Kalau dengan keadaan seperti, biasanya saya desain dengan tulangan menerus (langsung), yaitu tumpuan dan lapangan saya samakan baik atas maupun bawahnya 2/2 D16. Sengkang pakai Ø8-150 (tump), Ø8-200 (Lap) hehehe….tapi eitz tunggu dulu anda jangan bilang kalau saya asal main tebak dan ndak ilmiah…justru kalau menurut saya ini adalah sebuah justifikasi, dan justifikasi itu tergantung sama engineernya masing-masing (biasanya tergantung sama pengalaman dan teori yang dimiliki). Alasan yang sedikit ilmiah tapi sedikit maksa ( jowo, baca : mekso) adalah karena faktor reduksi yang dimiliki oleh STAAD adalah ACI, jadi belum disesuaikan dengan SKSNI, misalkan saja kita ambil contoh pada desain tulangan utamanya. ACI 318-99 memberikan reduction factor untuk tulangan lentur (phi bending tension) adalah = 0.9 sedangkan SKSNI dengan nilai faktor = 0.8. Jadi apabila desain dari STAAD dengan code desain ACI dikonversikan ke SKSNI maka akan diperoleh 0.9/0.8 = 1.125. Nah…dari faktor ini akan diperoleh faktor kombinasi beban 1.125 x (1.2DL + 1.6LL) sehingga menjadi = 1.35DL + 1.8LL.

Nah brow…sekarang lihat dengan mengganti kombinasi beban 1.2DL + 1.6LL menjadi 1.35DL + 1.8LL (meningkatan faktor kombinasi beban) akan menjadikan desain STAAD sesuai dengan SKSNI. Tapi ingat ini hanya untuk penyesuaian salah satu parameter. yaitu faktor reduksi lentur balok, sedangkan parameter lain belum dipertimbangkan dalam konversi ini. hehehe….jadi wajar aja kan kalau saya mengasumsikan hasil yang sedikit berlebih dari hasil yang diberikan oleh STAAD Pro. (Tapi ya itu…sekali lagi kita harus bisa membuktikan dengan hitungan biar lebih pasti hehehe…)

 

4.2. Hasil tulangan dari kolom yang kita klik diatas ( disini akan tampak bahwa kolom di desain dengan bar size (diameter tulangan) = 12 dan Bar No (jumlah tulangan) = 8, atau dengan kata lain 8D12. dengan As perlu = 900mm2

a18

Verifikasi : mari sekarang kita cek. As perlu = 900mm2. sedangkan desain tulangan = 8D12 = 8 ( 1/4 x 3.14 x 122 ) = 904.32 m2 > 900 m2 …(OK!). Nah…untuk tulangan kolom biasanya saya pilihkan diameter yang lebih besar daripada tulangan balok. Untuk kasus ini saya ambil tulangan dengan diameter 16.

Luas penampang D16 = 1/4 x 3.14 x 162 = 200.96 m2.

As required = 900 m2

Sehingga jumlah tulangan D16 yang harus dipasang = 900/200.96 = 4.47 ------dibulatkan menjadi 5 buah tulangan D16.-------tapi agar pembagiannya merata maka saya ambil 6D16

Untuk keperluan desain tulangan sengkang, anda bisa mengakses data tegangan geser  melalui menu tab Shear  Bending.

a19

4.3 Untuk mengetahui seberapa besar defleksi yang terjadi pada elemen struktur, bisa anda akses melalui menu tab Deflection

a20

4.4 Untuk mengetahi hasil desain secara lengkap, dapat anda akses melalui menu STAAD Output. Klik icon yang saya lingkari pakai warna merah seperti tergambar dibawah ini. Maka laporan hitungan secara lengkap akan keluar secara otomatis.

a21

a22a23

Pengkajian Hasil Analisa (Post Processing)

Sekarang kita akan melihat hasil analisa dlam bentuk Grafis.

1. Dari menu pulldown klik Mode > Post Processing

a9

2. Kotak dialog Result akan muncul dengan tabs aktif Loads. Dimana pada frame Selected terdapat list dari kasus pembebanan yang telah didefinisikan.

3. Untuk kajian analisa, anda dapat memilih sebagian kasus beban atau semuanya. Untuk kasus ini kita akan konsentrasi ke beban kombinasinya saja. Untuk itu pilih beban 1 s/d 4, kemudian klik tombol < . Klik OK

A24

4. Maka tampilan STAAD akan menjadi seperti gambar dibawah ini, dengan pagemenu Node dan Tab Displacement aktif. Dimana pada bagian data area ditampilkan tabel Node Displacement. Dan pada Screen Area ditampilkan struktur terdeformasi dengan skala tertentu

d1

5. Sekarang kita akan cari tahu dimana letak balok atau kolom yang mengalami kegagalan struktur (FAIL)

Untuk Balok

- Seleksi semua elemen struktur balok. Caranya terserah….bisa anda meng kliknya satu persatu, atau bisa juga melalui fasilitas Select By Group Name yang semua langkah-langkahnya sudah kita bahas diatas

b2

- Pada menu pulldown, klik Report > Section Forces

b1

- Klik tab Sorting, kemudian pilih Moment-Z, ceklist Absolute Values. Lanjutkan dengan memilih List from High To Low dari kotak Frame Set Sorting Order. Kemudian klik tab Loading, (jangan di klik ok dulu)

b5

-  Setelah itu akan muncul kotak dialog Section Forces. Atur sedemikian rupa sehingga hanya BEBAN KOMBINASI saja yang terseleksi di lajur sebelah kanan (selected). Klik OK!

b4

- Akan keluar kotak Section Forces, yang menampilkan elemen-elemen batang yang mengalami momen lentur yang diurutkan dari yang terbesar sampai yang terkecil. Sekarang anda lihat di kotak tersebut, ternyata element balok 56, 20, 14 & 57 menempati urutan teratas balok yang mengalami lentur terbesar.

b6

Nah sekarang pertanyaannya….hayo dimana letak balok itu???…..Udah gak perlu pakai hitungan yang njelimet dan ruwet untuk mengetahui letak 4 balok tersebut. silahkan jawab di luar kepala…..

Nich jawabannya :

b7

Pasti posisinya pada balok yang saya kasih tanda X warna merah itu dech…. kalau ndak gitu paling-paling yang saya kasih tanda X warna biru. Cuman kalau melihat geometri struktur dan pembebanan yang bekerja, saya condong ke balok yang saya kasih tanda X warna merah. Lho….la kok bisa? apa alasannya?….

Alasannya :

  • Balok yang bertanda X merah, memiliki bentang yang cukup besar ( L = 6m), tanpa ada kolom penyangga dibawahnya. Semakin panjang bentang, maka resiko defleksi akan semakin besar pula. Selain itu tepat ditengah bentang (titik ekstrim), balok tersebut mengalami beban terpusat dari beban balok anak(grid) yang menyangga beban dinding setinggi 3.6 m atau sekitar 900 kg/m’ dan beban mati pelat lantai.
  • Balok bertanda X biru sebenarnya juga mengalami kondisi yang sama. tapi tetap saja naluri saya mengatakan kalau balok yang bertanda X merah mengalami kegagalan lentur yang paling parah daripada balok bertanda X biru (hehehe…kayak dosen aja wkwkwwkwk….). OK! sekarang mari kita buktikan apakah balok dengan nomor 56, 20, 14 & 57 berada pada posisi tersebut

6. Klik kanan pada layar tampilan anda. Pilih Labels. Maka otomatis akan keluar kotak dialog Diagrams. Anda centang Beam Numbers pada frame Beams, klik OK

c2

c3

- Nah…ternyata benarkan prediksi saya kalau letak balok yang mengalami momen lentur terbesar terletak pada posisi tersebut hehehe…..

7. Sekarang klik ganda salah satu dari balok tersebut. Misalkan saja balok no 20. Klik tab Concrete. Sekarang anda lihat disitu tulangan bawah balok tidak keluar (berarti ada kemungkinan balok tersebut mengalami kegagalan struktur/FAIL)

c4

8. Sekarang cari informasi lebih lanjut dari balok no 20 ini, melalui menu STAAD Output. Anda bisa mengaksesnya dengan menekan tombol mirip calculator (yang saya lingkari pakai warna merah)

a21

Nah….sekarang baru ketahuan kalau balok no.20 Gagal/FAIL

c6

- Cek juga balok dengan no 56, 14, 57, 28, 47, 48, 2, 8  & 53. Balok-balok yang saya sebutkan ini adalah balok yang diawal tadi saya tandai dengan X merah dan X biru. Kemungkinan gagal lentur dari balok-balok ini sangat tinggi sekali.

Nah…sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara mengatasi agar balok tersebut tidak FAIL.

Ada dua cara yang bisa kita lakukan :

1. Yang paling ideal dan paling baik adalah menambahkan kolom penyangga tepat ditengah bentang dari balok tersebut (khususnya balok no 56, 20, 14 & 57 ), sehingga kemungkinan dimensi baloknya bisa diperkecil karena disesuaikan dengan lebar bentangnya.

2. Jika tidak memungkinkan dengan menggunakan cara diatas dikarenakan untuk alasan kebutuhan ruang, sehingga dikhawatirkan dengan adanya kolom tersebut malah akan mengganggu pemandangan dan ruang toko menjadi terkesan sempit. Maka mau tidak mau kita harus memperbesar dimensi balok.

OK! sekarang anggap saja ownernya tidak mau ada kolom di ruang depan toko. maka solusi diambil adalah memperbesar dimensi balok.

Sekarang kita ambil H balok adalah 1/10 dari lebar bentang, sehingga H = 1/10 x 600 = 60 cm, lebar balok diambil 1/2 H = 1/2 x 60 = 30 cm, jadi dimensi baloknya adalah 30/60.

9. Sekarang kita akan definisikan dimensi balok 30/60 ke STAAD. Caranya dari page menu General, klik tab Property, kemudian pada menu page sebelah kanan, klik Define, Lanjutkan dengan memasukan dimensi balok melalui kotak YD dan ZD. Klik Add.

c7

10. Sekarang Assign balok yang sudah kita definisikan tadi ke elemen no 56, 14, 57, 28, 20, 47, 48, 2, 8  & 53. Untuk jelasnya lihat balok yang saya kasih tanda X (merah) dan X (biru) pada gambar dibawah (bisa toh caranya…..jadi saya gak perlu ngulang-ngulang lagi hehehe…..)

b7

11. Lakukan analisa struktur ulang. Jika sudah cek kembali balok tersebut, apakah masih FAIL atau tidak?. Jika masih FAIL, maka balok perlu didimensi ulang. Silahkan Anda bereksplorasi sendiri….

Sekedar sebagai catatan :

Ternyata setelah saya inputkan balok dengan ukuran 30/60 masih tidak memenuhi (FAIL). Dan baru ketika saya memasukan balok dengan dimensi 30/90 struktur baloknya stabil (alias tidak FAIL). Tapi lha masak baloknya sebesar itu toh…..lha kalau baloknya sebesar itu berarti spase vertikal ruang tinggal 3.80 – 0.90 = 3.1 m……hmmmm..jadi pendek ya kalau untuk ukuran ruko. tapi tidak apalah…cobalah tanya ke arsiteknya…kira-kira elevasi plafondnya berapa? masih memenuhi ndak kalau dengan balok setinggi itu.

Sebenarnya ada cara lain lagi agar baloknya tidak sebesar itu, yaitu dengan mengubah ukuran kolom yang saya blok pakai warna hijau ini dengan ukuran 40/40, sehingga baloknya bisa diperkecil menjadi 30/60. Coba deh kalau gak percaya. nih hasilnya penulangan dari balok 30/60 tersebut (lihat gambar bawah).

 cc1

c10

Lho kok bisa???…

Ok! disini saya tidak akan serta merta untuk menjawab..silahkan untuk dipecahkan sendiri. Jika belum ketemu jawabannya jangan segan-segan untuk bertanya kepada saya…hehehehehe…..Cuman pesan saya adalah :

“Pemilihan model struktur yang tepat dan sesuai, adalah lebih penting dari ketelitian perhitungan struktur itu sendiri”

 

Materi Tambahan  :

- Kalau anda ingin melihat struktur secara Full Section yang artinya ketebalan strukturnya ditampilkan anda bisa klik kanan dilayar tampilan. Pilih Labels, kemudian klik tab Structure. Pilih Full section > kemudian klik OK. Maka hasilnya akan seperti dibawah ini :

 

c9

 Mencari Kolom Yang Mengalami Gaya Aksial Terbesar

- Seleksi semua elemen kolom. Caranya terserah….bisa anda meng kliknya satu persatu, atau bisa juga melalui fasilitas Select By Group Name yang semua langkah-langkahnya sudah kita bahas diatas

4.4

- Pada menu pulldown, klik Report > Section Forces

b1

- Klik tab Sorting, kemudian pilih Axial Force, ceklist Absolute Values. Lanjutkan dengan memilih List from High To Low dari kotak Frame Set Sorting Order. Kemudian klik tab Loading, (jangan di klik ok dulu)

c11

-  Setelah itu akan muncul kotak dialog Section Forces. Atur sedemikian rupa sehingga hanya BEBAN KOMBINASI saja yang terseleksi di lajur sebelah kanan (selected). Klik OK!

b4

- Akan keluar kotak Section Forces, yang menampilkan elemen-elemen batang yang mengalami gaya Axial yang diurutkan dari yang terbesar sampai yang terkecil.

c12

Oke! sampai disini dulu ya pembahasan kita. Hal-hal lain yang belum dibahas akan dibahas pada posting berikutnya tapi dengan judul yang berbeda. Dikarenakan begitu banyaknya fungsi dan fitur STAAD Pro yang tidak mungkin di kupas satu-satu dalam satu postingan. Maka pembicaraan kita putus sampai disini dulu. Insya ALLOH saya akan kupas satu persatu fungsi dari tool-tool STAAD Pro ini satu persatu di lain kesempatan tentunya dengan nuansa dan judul yang berbeda pula.

Akhirul kalam,

Assalamualaikum Warrohmatullohi Wabarrokattu

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes